New Article Released  " DAFTAR NAMA VERSUS KANVASING "

BEDA APLIKASI TAPI SALING BONCENG
 

Test1234

Test 1234

Live Chat

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Event Calendar

Last month June 2018 Next month
M T W T F S S
week 22 1 2 3
week 23 4 5 6 7 8 9 10
week 24 11 12 13 14 15 16 17
week 25 18 19 20 21 22 23 24
week 26 25 26 27 28 29 30
 

BALADA KOMUNIKASI

 

baladaKETIKA mama saya tercinta berpulang di panggil Tuhan, jenasah disemayamkan di salah satu gedung persemayaman jenasah untuk memberikan kesempatan kepada sanak saudara, tetangga, kolega, dan orang orang yang mengenal keluarga kami untuk melayat.

Biasa mulai sore hingga malam silih berganti orang datang, dan kami dari pihak keluarga menyambut mereka, dan mempersilahkan duduk.

Sepanjang 3 hari saya mengobrol dengan para pelayat, baik dari sanak keluarga, maupun dari orang orang yang kadang tidak saya kenal secara pribadi. Dan ketika menemani mereka duduk dan mengobrol, topik pembicaraan hampir 100% dengan topik yang sama.

"Kenapa meninggalnya?"

Pertanyaan ini sangat umum ditanyakan hampir semua pelayat. Dan saya sebagai anak harus menjawab pertanyaan yang sama.

Menjelaskan apa penyebab mama saya meninggal.

"Sudah lama sakitnya?"

Sekali lagi saya harus menceritakan kapan mama saya menderita sakitnya. Bahkan beberapa penanya menharapkan cerita kronologisnya. Bahkan siapa dokternya, dimana rumah sakitnya.

"Siapa yang menjaga ketika dirawat di Rumah Sakit?"

Kami 8 bersaudara, ketika mama harus dirawat di rumah sakit, tentunya kami tidak bisa mengandalkan pemerataan kewajiban menjaga. Namun siapa yang lebih luang yang akan mendampingi mama. Ketika jawaban memberikan persepsi ketidak rataan waktu menjaga antar saudara akan disambung dengan pertanyaan yang memberi penilaian. Menimbulkan provokasi.

"Koq cuma dia aja yang jaga, yang lain kemana?"....

"Wah, habis biaya banyak ya...ditangani dokter siapa ya?"

"Dulu harusnya ditangani dengan dokter....atau ada pengobatan alternatif.....bla...bla...bla...."

 

Jadi bisa dibayangkan selama di tempat persemayaman sebelum pemakaman, komunikasi yang terjadi hampir di kisaran seperti itu. Bisa dibayangkan seseorang yang harus menjelaskan hal yang sama, berulang ulang...dan yang diceritakan adalah tentang kesedihan. Kedatangan orang orang yang bersimpati maupun berempati semakin menambah kesedihan siapapun yang harus menceritakan berulang.

Hal yang sama terjadi saat di grup chat WA teman teman seangkatan kuliah. Salah datu teman ada yang sakit yang cukup langka dan harus menjalani perawatan di RS. Diawali dengan ucapan awal semoga cepat pulih dan sembuh. Dan akhirnya ke arah pertanyaan sebabnya, gejalanya, dan bagaimana metode penyembuhannya. Tentu saja teman tersebut yang awalnya mengucapkan terima kasih atas perhatian kawan kawan, akhirnya harus menjawab pertanyaan seputar penyakit dan segala hal yang berkaitan. Dan karena di grup chat tersebut anggota puluhan orang mereka tanpa sadar mengajukan pertanyaan yang menggali kembali hal yang negatif. Rasa sakit yang mungkin sudah meredah harus kembali diingat. Dan yang bertanya melalui chat tidak pernah melihat langsung bagaimana rona wajah atau perasaan teman yang sakit. Perhatian yang membawa derita !!!

 

PERCAKAPAN Lisa dan Linda di sebuah cafe. Linda baru saja ber ulang tahun beberapa hari yang lalu. Dan Lisa menanyakan hadiah apa dari suaminya. Dan Linda mengatakan sang suami tidak memberi hadiah, hanya di pagi hari memberi ucapan dan ciuman di keningnya. Dan hal itu juga dilakukan selama ber tahun tahun. Seorang Lisa menanggapi dengan membuka gadjetnya, yang berisi foto foto saat dia berulang tahun. Dimana tengah malam tepat pergantian hari, sang suami memberi dia suprise dengan ada suara music dan kue mini. Besok paginya masih dilanjut dengan kado istimewa, berupa sebuah gelang yang diidam idamkan selama ini. Siang hari, masih ada kiriman bunga.....yang semuanya membuat Lisa berbunga bunga sepanjang hari istimewanya. Dan Lisa mulai membandingkan antara suaminya dengan suami Linda.

"Wah Lin, kalo aku jadi kamu, aku pasti ga isa...kita ini kan wanita...perlu diperhatikan...."

"Nah...kalo dia yang ulang tahun, ga perlu kamu kasih surprise kayak biasanya, aku ingat waktu tahun lalu kamu bingung cari kadonya....buat apa....?"

"Padahal waktu awal dulu, aku inget....dia ga kayak gitu lho...., atau jangan jangan dia punya orang lain ya....."

Pertemuan dan percakapan Linda dan Lisa begitu membekas. Tiba di rumah Linda menjadi gelisah. Dan menampakkan wajah murung. Sang suami melihat dan bertanya. Linda tidak menjawab. Kejadian berlangsung ber hari hari. Dan menimbulkan pertengkaran yang tidak ada ujung pangkal. Apa ujungnya...kita tidak bahas di sini...

 

Sering kita menjumpai hal seperti di atas. Dalam topik yang berbeda beda. Yang tanpa sadar seseorang dalam berkomunikasi menimbulkan dampak negatif bagi orang lain. Kadang karena mau memberi perhatian, seperti bersimpati atau berempati, namun pilihan kalimat yang dilontarkan bisa membuat penerima kalimat atau kawan bicara menjadi galau. Dan sangat mengganggu pikirannya. Seseorang bisa dengan terpaksa menjawab pertanyaan yang ketika menjawab harus mengingat hal hal yang sebenarnya tidak ingin dipikirkan, atau malah ingin dilupakan. Bahkan tidak jarang malah menimbulkan masalah baru yang berimbas pada orang lain. Karena pertanyaan yang diajukan ada konotasi yang memprovokasi pihak yang lain. Yang ujungnya mengakibatkan konflik berkepanjangan.

 

Belajar dari situasi di atas tentunya dalam berkomunikasi bisa memilih kalimat yang akan dilontarkan. Kita bisa berpikir lebih panjang bila akan mengungkapkan kalimat. Apa dampaknya bagi pendengar.

Bila memang mau memberi perhatian, tentunya masih banyak alternatif pilihan pembicaraan yang lebih berdampak positif. Perhatian kepada keluarga yang berduka tidak harus menanyakan sebab meninggal. Akan lebih baik bila menanyakan hal hal apa yang bisa dibantu untuk dilakukan.

"Serahkan semua kepada Tuhan. Karena Tuhan pasti memberi kekuatan. Oh ya...soal apa yang bisa aku bantu? Anak anak ada yang jemput sekolah? .." Komunikasi demikian akan lebih netral tanpa harus melibatkan perasaan untuk mengulang kesedihan.

Untuk teman yang dalam perawatan sakit..."Jaga kondisi aja...aku percaya akan lebih baik...Kapan kita jalan lagi ya...sudah lama lho kita ga ngobrol ngobrol..." Banyak pilihan kalimat yang bisa membangun orang lain. Karena tujuan dari dari perhatian tentunya memberi penghiburan. Bukan malah menambah penderitaan.

 

Dalam berkomunikasi tentunya melibatkan 3 hal utama.

Bagaimana pilihan KATA dan KALIMAT yang terlontar. Kadang maksudnya baik, namun pilihan kata yang tidak tepat bisa menimbulkan persepsi yang negatif. Oleh karena itu biasakan selalu terbiasakan mendengar kata kata atau kalimat positif. Anak anak kecil bisa mengumpat dan mengeluarkan kata kata yang kadang tidak sepantasnya hanya karena mereka mendengar dari banyak sumber. Bisa orang orang terdekatnya. Orang tua, keluarga besar, atau orang sekitar, baby sitter, pembantu, atau bahkan dari televisi. Karena apa yang didengar, sadar atau tanpa sadar akan ter memory dalam otak. Dan kata kata tersebut akan keluar pada waktunya. Oleh karena itu pilihlah media media yang pantas untuk didengar. Kata kata dan kalimat positif akan didapat dari sumber sumber yang punya sikap dan perilaku yang positif. Untuk mampu berkomunikasi dengan baik tentunya membutuhkan banyak pilihan kosa kata yang positif dan membangun. Keterbatasan kosa kata menyebabkan seseorang tidak mampu berkomunikasi dengan baik. Diam adalah pilihan lebih baik, daripada mengeluarkan kalimat yang menimbulkan konflik.

 

Berikutnya adalah INTONASI.

Pilihan kata dan kalimat akan lebih berdampak dengan intonasi yang tepat. Karena dengan kata kata sederhana akan lebih berarti bila dengan intonasi yang sesuai dengan pilihan kata. Seorang yang jatuh cinta dengan lawan jenisnya, ketika mengungkapkan rasa cintanya, tentunya menggunakan kalimat yang sesuai dengan ungkapan hatinya. Namun bila diucapkan dengan intonasi datar tanpa rasa tentunya seperti seseorang yang membaca teks. Intonasi dilakukan dengan hati. Seorang yang buta bisa membedakan suara orang tulus atau tidak, bahkan membencinya hanya dengan mendengar intonasinya. Oleh karena itu belajar berkomunikasi dengan intonasi yang tepat. TEPAT artinya sesuai dengan apa yang diharapkan dari komunikasinya. Seseorang yang marah atau tidak suka, tentunya punya intonasi yang berbeda dengan orang yang lagi gembira atau dalam kondisi normal. Kalau seseorang lagi marah, namun dengan intonasi datar, maka lawan bicara nya tidak bisa menerjemahkan kemarahan tersebut. Bisakah Anda membayangkan seseorang yang lagi marah namun orang lain tidak tahu kalau dia marah......???....hehe....gawatt.....

Dengan intonasi, maka ketika berkomunikasi orang lain bisa menilai kondisi. Apakah netral, mengobrol, bertanya, tidak suka, atau gembira, atau marah.

Para komunikator handal sangat bisa mengontrol intonasinya. Sehingga mereka bisa menampilkan persepsi seperti yang diharapkan. Kadang ketika disulut emosipun mereka tidak mau menunjukkan kemarahannya. Mereka tetap bisa dengan intonasi datar.

 

Dalam penelitian tentang komunikasi, pilihan kata atau kalimat hanya berpengaruh 7% terhadap lawan atau kawan bicaranya.

Sedangkan Intonasi berpengaruh hingga 38%. Dan porsi yang sangat besar dan penting pengaruhnya, adalah....

GERAK atau BAHASA TUBUH atau Body Language. Pengaruh nya mencapai 55% dari komunikasi.

Artinya, sesorang tanpa mengeluarkan kata kata, tapi menunjukkan bahasa tubuhnya, akan menimbulkan persepsi hingga 55%. Seseorang marah, tanpa mengeluarkan kata kata, tanpa intonasi. Tapi ekspresinya menunjukkan dia marah. Maka orang lain tahu bahwa dia marah!!

Oleh karena itu ber hati hatilah dengan menampilkan bahasa tubuh. Karena dari sanalah kita sudah berkomunikasi dengan pihak lain. Orang boleh mengeluarkan kalimat positif dan indah, disertai dengan intonasi yang sesuai, namun wajah dan rona menunjukkan hal berbeda. Maka orang lain akan merekam dan mengambil persepsi dari ekspresi. Yang lain lain jadi tidak berarti. Seorang anak kecil kadang jauh lebih peka terhadap situasi ini. Mereka bisa menilai saat orang tua nya pulang kerja. Tanpa mengeluarkan kata kata pun, sang anak bisa punya persepsi, kalau orang tuanya capek, tidak mau diganggu, atau bahkan sedang marah. Itulah bahasa tubuh. Demikian pula kita bisa menilai, saat kita bertamu ke tempat yang teman, kerabat, atau orang asing. Tuan rumah bisa menerima kita dengan tulus atau tidak. Bukan dari kata kata yang dikeluarkan. Tapi dari sikap tubuh dan ekspresi wajah yang ditampilkan.

 

Dalam kehidupan kita sebagian besar waktu kita digunakan untuk berkomunikasi. Baik dalam keluarga, sosial, maupun bisnis. Dan kita bisa melihat, mendengar, dan merasakan, bagaimana orang bisa mencapai puncak prestasi hidupnya. Orang orang sukses itu selalu punya kemampuan berkomunikasi dengan baik. Karena dengan itu mereka bisa punya banyak jaringan pertemanan, dan dari situlah ada bibit kepercayaan.

Selalulah belajar untuk berkomunikasi, setidaknya komunikasi yang keluar mampu menguatkan orang lain. Memberdayakan orang, bukan sebaliknya membuat orang lain sedih, sakit hati, atau malah 'membunuh' orang lain. Lakukan mulai sekarang !! (HC) This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

Headquarters Visitors (Sejak 10 April 2013)

1559367