New Article Released  " DAFTAR NAMA VERSUS KANVASING "

BEDA APLIKASI TAPI SALING BONCENG
 

Test1234

Test 1234

Live Chat

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Event Calendar

Last month May 2018 Next month
M T W T F S S
week 18 1 2 3 4 5 6
week 19 7 8 9 10 11 12 13
week 20 14 15 16 17 18 19 20
week 21 21 22 23 24 25 26 27
week 22 28 29 30 31
 

DAFTAR NAMA VERSUS KANVASING

 

rev KANVASINGCold Canvassing, istilah ini dikenal di kalangan dunia sales dimana merupakan aktifitas mencari pelanggan atau nasabah melalui pendekatan langsung tembak tanpa membuat janji. Tanpa harus mengenal nasabah. Langsung mengenalkan diri mewakili sebuah institusi, kadang harus menggunakan name tag. Mental baja dibutuhkan. Karena siap menghadapi tolakan mulai halus hingga frontal. Mungkin juga berupa pengusiran.

Ada pendapat bahwa sebuah kantor Agency yang sukses selalu punya kelas kanvasing . Sehingga satu waktu ada salah seorang Leader mempunyai anggapan bahwa kanvasing adalah bentuk aktifitas yang harus dilakukan di profesi sebagai Agen Asuransi. Di dalam kurikulum trainingnya selalu dimasukkan proyek kanvasing. Setiap Agen diminta masuk daerah keramaian, bisa pusat pertokoan, mall, food court, pasar, untuk prospek siapapun yang ditemui. Sebenarnya, bila kanvasing dilakukan

oleh sebagian Agen baru, itu sama dengan filtering yang gagal pada awal perekrutan. Karena dasar dari perekrutan bisnis ini adalah ‘modal dasar’ yang harus dimiliki seseorang dalam bisnis ini adalah DAFTAR NAMA. Tanpa memiliki daftar nama artinya agen tersebut sudah memiliki potensi gagal.

Ketika saya memulai sebagai Agen Asuransi di tahun 1992 lalu, saya diharuskan menjalani interview dan mengikuti test untuk standar penerimaan. Saat itu sebuah agency yang di support oleh 3 orang Leader yang berasal dari Singapore. Sebelum melalui tahap interview, saya diminta mengisi Form nama calon prospek di dalam beberapa lembar kertas. Mereka meminta sedikitnya saya bisa menuliskan 100 nama. Kurang dari itu kami tidak akan melewati tahap berikutnya atau interview dan test kepribadian. Jadi kami semua dipaksa untuk bisa menulis 100 nama. Dipandu caranya. Ditunggu. Yang menyerah bisa langsung meninggalkan ruangan dan pulang. Akhirnya dengan susah payah lewat juga memgisi daftar 100 nama. Baru kami interview dan test kepribadian. Test kepribadian tujuannya untuk memberi parameter, apakah kita cocok dengan profesi sebagai Agen Asuransi. Saat itu benar benar mereka fokus untuk mencari kandidat seorang Agen Asuransi. Para mentor dari Singapore saat itu melakukan filter awal. Mereka keberatan mendidik orang, sekalipun punya minat yang tinggi namun tidak bisa menuliskan nama yang dikenal minimal 100 nama. Memang pada akhirnya saya mengetahuinya, bahwa sedemikian pentingnya daftar nama tersebut bagi kelangsungan bisnis saya. Tanpa adanya daftar nama saya tidak akan bisa merencanakan waktu dan kepada siapa saya prospek. Tanpa daftar nama saya tidak bisa merencanakan berapa premi dan komisi yang akan memperoleh pencapaian income dan kontes saya. (Baca artikel PERSIAPKAN DAFTAR NAMA)

Karena pada dasarnya orang membeli polis karena dia kenal dan percaya pada SIAPA yang menjual. Kenal latar belakang agen akan mempercepat proses pembelian polis. Sebagai Leader dalam industri saya begitu menyadari, merekrut agen tanpa memiliki daftar nama sebenarnya membuang waktu. Mendidik agen yang memiliki daftar nama saja tidak langsung atau bisa berhasil. Apalagi agen yang tidak memiliki daftar nama! Memang tidak bisa dipungkiri bahwa dari sekian banyak agen yang berhasil selalu ada orang orang yang istimewa. Tanpa daftar nama bisa berhasil. Mereka melakukan kanvasing mulai dari awal. Dan punya mental tahan terhadap tolakan yang melebihi kapasitas orang orang pada umumnya.

Menurut pengalaman, atau statistik yang ada, kanvasing hampir tidak pernah menghasilkan premi premi besar. Kanvasing hanya menghasilkan premi premi retail. Karena premi besar dasarnya selalu ada unsur keakraban. Ada unsur percaya. Tanpa fact finding tidak akan ada unsur analisa. Tanpa analisa kebutuhan sulit untuk membuat calon nasabah punya pemahaman untuk mengeluarkan sebagian uangnya untuk membeli polis Life Insurance. Apalagi dalam kebanyakan kanvasing, pendekatan Agen selalu menggunakan kata ‘menabung'. Jarang berani menjual proteksi dalam arti memberi pemahaman tentang resiko kematian.

Bila pertanyaan dipertajam, apakah Kanvasing diperlukan dalam industri Life Insurance? Bagi saya, kanvasing tetap diperlukan untuk melatih mental kita di lapangan. Karena dalam industri ini penolakan adalah hal yang paling ditakuti dan paling dihindari oleh siapapun juga. Sehingga kita perlu melatih agar kita terbiasa, atau bahkan kebal dengan penolakan. Sedangkan bila langsung menjual ke orang orang yang kita kenal, maka ada resiko beban mental. Maka alternatif terbaik untuk melatih mental untuk tahan terhadap penolakan adalah melalui jalur kanvasing. Karena ditolak orang orang yang belum kita kenal bebannya lebih ringan. Jadi ringkasnya, jalur kanvasing bukan ditujukan untuk jalur utama dalam memperoleh komisi, namun hanya sebagai jalur alternatif. Dengan sering melakukan kanvasing, mental tahan terhadap penolakan akan terbentuk dengan sendirinya. Hingga akhirnya masuk dalam taraf tertinggi dalam tingkatan mental seorang Agen Asuransi. Benar benar kebal terhadap penolakan. Ketika tertolak rona wajah tidak mengalami perubahan. Rona wajah tetap normal dan stabil. Senyum tetap mengembang.

Dengan mengerti tentang hal ini, maka tidak perlu lagi kita memperdebatkan lagi. Karena kita tahu esensi masing masing. Daftar nama merupakan dasar modal Agen Asuransi tetap merupakan hal utama. Namun sayangnya banyak Leader tidak mempunyai ketahanan untuk melakukan filter awal dengan meminta daftar nama calon Agennya. Melihat, mendengar, dan merasakan kalau merekrut itu tidak mudah, maka setiap orang yang mau jadi Agen, seakan sudah merupakan berkah. Sehingga siapapun bisa Anda jadikan Agen. Tanpa melalui screening apapun juga. Namun ketika Agen tersebut gagal, makin kuat keyakinan, bahwa merekrut itu susah. Padahal, kalau kita mau jujur, kegagalan yang terjadi adalah akibat kontribusi Leader juga. Merekrut tanpa screening. Dengan merasa merekrut adalah susah, menyebabkan seorang akan menjadi Agen Asuransi seumur hidup. Merasa merekrut susah, maka dia akan menjual secara pribadi. Mengejar kontes pribadi. Dan begitu seterusnya tahun demi tahun.

Ada yang bertanya pada saya, mengapa saya tidak pernah mengajarkan teknik kanvasing? Jujurnya... saya memang sepanjang karier tidak pernah melakukan kanvasing. Saya merasa tidak PD bila harus kanvasing. Saya gengsi untuk kanvasing. Oleh karena itu, saya selalu memperkuat dan memperbanyak Daftar Nama. Saya meningkatkan kemampuan untuk bisa berkomunikasi dengan siapa saja, di mana saja, dan meningkatkan skill komunikasi agar bisa mendapat banyak kenalan baru. Dan bisa menambah Daftar Nama saya. Saya tahu kelemahan saya. Sangat gengsi untuk kanvasing. Namun saya tahu, bila saya tidak mau kanvasing, maka saya mencari cara lain agar saya tetap punya Daftar Nama yang cukup. Bagaimana dengan mental terhadap penolakan? Saya masuk industri ini, dalam kondisi kepepet. Maka saya sejak awal sudah siap dengan penolakan yang ada. Karena ada impian yang harus saya wujudkan (Anda bisa mendengar CD The Power of Dream by Hendrick Christanto). Jadi, masih perlukah kanvasing? Anda sendiri yang tahu kondisi diri Anda. Dan Anda harus tahu apa yang harus dilakukan untuk bisnis Anda ke depan. Yang penting, profesi ini HARUS KETEMU DENGAN ORANG. Tidak ada pilihan lain !!! (HC) This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

 

 

Headquarters Visitors (Sejak 10 April 2013)

1500029