New Article Released  " DAFTAR NAMA VERSUS KANVASING "

BEDA APLIKASI TAPI SALING BONCENG
 

Test1234

Test 1234

Live Chat

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Event Calendar

Last month June 2018 Next month
M T W T F S S
week 22 1 2 3
week 23 4 5 6 7 8 9 10
week 24 11 12 13 14 15 16 17
week 25 18 19 20 21 22 23 24
week 26 25 26 27 28 29 30
 

STIGMA DEMIKIAN PENTING ?

 

stigma2Berita pagi di saat liburan panjang lebaran ini sebenarnya sebuah berita biasa. Yang sering ditemui sehari hari. Namun bedanya...

Sebuah mobil hancur berantakan bagian depan dan menjadi tontonan banyak orang, teronggok di pinggir trotoar. Bagian lampu depan sudah tidak berbentuk. Pecahan kaca mobil, berhamburan kemana mana. Tidak ada korban jiwa. Saat kejadian terjadi mobil itu membanting setir dengan mendadak dan menabrak trotoar karena... menghindari sebuah motor yang melawan arus. Dan mengagetkan pengemudi mobil tsb. Sehingga ditabraklah trotoar. Mobil bagian depan hancur.Biasa.... ya... Yang tidak biasa, mobil itu mobil sport.. yang diidentikkan dengan mobil balap. Mobil mewah. Mobil mahal. Pemiliknya orang kaya.Media tidak membahas bagaimana pengemudi motor yang melawan arus sehingga menyebabkan kecelakaan dan merugikan orang lain. Media lebih membahas harga mobil. Dan membahas mobil yang mempunyai daya kecepatan tinggi.

Serta  kemungkinan pengemudi melebihi batas kecepatan. Sementara pengemudi motor sudah hilang tidak berbekas. Hanya karena mobil mewah! Mobil balap! Mobil mahal! Dan kesalahan jadi ditimpakan pada mobil mewah tersebut. Kejadian yang sama pernah terjadi di Surabaya beberapa waktu lalu.Yang saat itu menimbulkan korban jiwa. Media saat itu mengekspos ber hari hari. Bahkan sudah kelewat batas. Hingga memotret rumah pengemudi dan mengulas kehidupan pribadi pemilik mobil. Masyarakat membahas gaya hidup keluarganya. Komentar komentar nyinyir terdengar. Padahal sebenarnya kecelakaan yang bisa terjadi pada siapa saja, dan apa saja. Benar benar lebay. Hanya karena mobil mewah. Bila terjadi sebuah kecelakaan truk atau mobil biasa pemberitaan juga akan biasa saja.

Itulah STIGMA. Dengan terjemahan bebas, adalah ‘penghukuman’ persepsi atas sebuah hal yang dikonotasikan negatif bagi ‘banyak orang’. STIGMA bisa merugikan siapa saja yang menjadi korban stigma.

Pada setiap bulan puasa, untuk menghormati bulan suci dibuat Perda pada bidang usaha yang berpotensi mengganggu kekhusukan puasa. Salah satunya adalah tempat Karaoke. Sebenarnya apa yang salah dengan karaoke? Tempat orang bernyanyi. Menghilangkan stress daripada sekedar berteriak di kamar mandi yang mengandalkan gema ruangan sempit. Atau tempat orang yang menyalurkan bakatnya bernyanyi. Mencari sound sistem yang bagus. Namun tempat itu harus tutup selama sebulan. Memang tidak bisa dipungkiri banyak tempat Karaoke yang sudah melebar fungsinya ke hal hal yang berbau mesum. Namun dengan adanya stigma, lagi lagi jadi korban penyamarataan. Semua dianggap jelek. Semua tempat Karaoke harus tutup tanpa kecuali.

Hal yang sama dengan tempat billiar. Dalam Olimpiade olah raga, Sea Games, Asian Games, atau kejuaraan lainnya billiar adalah olah raga resmi. Terdaftar. Dan dipertandingkan. Namun lagi lagi karena STIGMA yang konon banyak yang menganggap negatif. Saat bulan puasapun diharuskan tutup.

Bagaimana dengan STIGMA profesi kita sebagai insan industri life insurance? Bagaimana reaksi sekitar dan lingkungan kita ketika mendengar ada Agen Asuransi (Jiwa)? Lebih banyak yang netral atau menjauh? Agen Asuransi dipandang sebagai penjual kelas bawah. Yang seakan tidak ada pekerjaan lain sehingga harus berjualan atau menawarkan asuransi. Agen Asuransi dianggap suka bicara manis manis saat proses menawarkan. Giliran sudah closing, maka akan sulit dicari. Bahkan kadang menghilang. Agen Asuransi dianggap pintar omong. Pandai merayu agar orang membeli. Bahkan selalu keliatan ramah dimana dimana, yang ujungnya prospek dan menawarkan produknya. Agen Asuransi dianggap tidak kenal waktu ketika menawarkan produknya. Pagi siang malam. Telepon atau broadcast. Yang isinya mengatakan produknya bagus atau... menjelekkan company lain. Agen Asuransi dianggap orang freelance yang tidak punya pekerjaan tetap. Suatu kali saya ditawari apply kartu kredit. Dan ketika di kolom pekerjaan saya isi Asuransi Jiwa sekalipun dengan jabatan tertinggi, namun oleh sales kartu kredit tersebut disarankan untuk diganti pekerjaan yang lain. Karena analis akan menganggap bukan pekerjaan tetap. Bahkan penghasilan tidak tentu. Sehingga kemungkinan ditolak. Akhirnya, saya membatalkan apply. Karena saya cukup ‘tersinggung’ dengan pemikiran tersebut. Hingga hari ini saya tidak mempunyai kartu kredit dari bank tersebut. Pernahkah mendengar seorang pria yang ditolak orang tua pacarnya hanya karena berprofesi Agen Asuransi. Orang tua lebih merasa aman kalau calon menantunya bekerja di bank daripada di perusahaan asuransi. Bagaiman bila wanita atau gadis yang bekerja di Asuransi? Sampai hari ini masih banyak yang menilai negatif. Dianggap menjusl diri  jual tubuh. Sehingga keluarga keberatan bila mendengar anak atau istrinya direkrut untuk menjual asuransi. Miris mendengarnya. Dan masih banyak hal hal lain, yang masih bisa dituliskan namun akan menambah kepahitan kita.

Tentu saja hal ini tidak bisa kita lawan dengan kata kata. Mendebat mereka atau melawan stigma akan semakin membuat stigma menjadi kebenaran. Tidak ada jalan lain selain tugas kita bersama untuk membuktikan bahwa stigma di atas salah. Butuh waktu memang. Tidak bisa dalam waktu singkat. Karena ketika sebagian kecil kita membuktikan dengan sikap, di sisi yang lain sebagian besar teman profesi kita justru melakukan hal yang di stigma kan. Maka masing masing dari kita harus bergerak lebih maju. Dalam hal berpikir. Bertutur. Dan bersikap. Kita harus berubah. Tidak ada jalan lain!!

Going to the Next Level!! (HC) This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

 

 

Headquarters Visitors (Sejak 10 April 2013)

1559346