New Article Released  " INDONESIA LUAR BIASA "

BEDA APLIKASI TAPI SALING BONCENG
 

Test1234

Test 1234

Live Chat

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Event Calendar

Last month September 2018 Next month
M T W T F S S
week 35 1 2
week 36 3 4 5 6 7 8 9
week 37 10 11 12 13 14 15 16
week 38 17 18 19 20 21 22 23
week 39 24 25 26 27 28 29 30
 

JANGAN MEMUTUSKAN UNTUK FULL TIME DI BISNIS ASURANSI

 

resign

Pertumbuhan bisnis di industri life insurance terasa imbasnya di Indonesia.

Banyak keberhasilan yang di show kan melalui testimoni di banyak kegiatan rekrutmen. Tidak ketinggalan di post di media sosial. Yang 'memamerkan' apa yang sekarang dimiliki. Mulai meningkatnya gaya hidup. Nongkrong di cafe cafe life style. Membeli barang branded. Jalan jalan ke luar negeri. Mengganti mobil lama menjadi lebih baru, atau membeli mobil baru. Bahkan membeli rumah!

Tentu saja hal ini bisa menggelitik orang orang yang dikenalnya. Khususnya yang saat ini masih berstatus sebagai karyawan, ataupun pekerja lepas dari ragam profesi. Tidak terkecuali mereka yang berstatus wiraswasta. Apalagi dalam berbagai kesempatan baik dalam pembicaraan pribadi maupun dalam seminar rekrutmen, selalu ditekankan bisnis ini adalah bisnis tanpa modal yang sanggup mengubah hidup.

Maka mulailah banyak orang ingin mencoba atau memulai babak baru dalam hidupnya.

Mereka datang ke acara acara rekrutmen. Dan mereka memutuskan untuk bergabung dengan mengisi form dan siap mengikuti training yang menghantar mereka menuju keberhaslan.

Mereka disodori kurikulum training basic, training lanjutan, dan rangkaian kegiatan yang mengarah menuju kesuksesan.

 

Pertemuan awal dengan Leader dan pengundang, mereka semakin diberi keyakinan bahwa mereka akan sukses bila 'fokus' di bisnis ini. Fokus disini diartikan bahwa mereka akan sukses bila mereka bekerja secara fulltime. Artinya mereka keluar dari pekerjaan mereka yang lama. Yang karyawan diharapkan resign. Yang pekerja lepas diharapkan tidak melanjutkan yang sudah ada, bahkan disarankan untuk keluar dari komunitas lamanya. Sehingga tidak mengganggu atau menjadi virus dalam bisnis ini. Bahkan yang wiraswastapun bisa menutup usahanya.

Terus bagaimana?......

 

Beberapa waktu lalu, saya sering merekrut teman teman yang bekerja di bank. Khususnya mereka yang berhubungan dengan nasabah. Mereka banyak mengenal nasabah nasabah yang mereka tahu isi kemampuan finansialnya. Baik nasabah deposan ataupun kredit. Karena bagi saya itu adalah modal awal dalam industri ini. Ketika mereka bekerja secara part time, melakukan aktifitas prospekting di luar jam kerja. Sepulang kerja, atau sabtu dan minggu. Penghasilan mereka bisa melebihi gaji yang mereka terima. Bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat dari gajinya.

Hal ini yang membuat mereka jadi berpikir. Mereka melakukannya di sela sela pekerjaannya. Mengambil waktu kosongnya namun memperoleh penghasilan berlipat dibanding kerja utamanya. Dan inspirasi ini saya lontarkan ke mereka untuk memikirkan bagaimana bila fokus dalam bisnis ini dan keluar dari pekerjaan sebelumnya. Dan mereka resign!!

 

FAKTA YANG TERJADI....

Saat mereka bekerja menjadi karyawan, mereka masuk kerja jam 8 pagi dan pulang jam 5 sore, bila tidak ada lembur.

Tidak jarang mereka harus bekerja hingga lewat jam 7 malam bila pekerjaan belum selesai,

Rajinkah mereka?...

Ternyata sekelompok pekerja tersebut bukanlah rajin. Namun karena tunduk pada aturan yang ada. Mereka mempunyai keharusan untuk melakukan hal tersebut. Ada kriteria kerja dan target yang harus dilampaui. Sehingga mereka bekerja sesuai jam kerja.

Saat memutuskan fulltime dalam bisnis ini, mereka 'ingat' yang didengarnya saat presentasi awal. Bahwa dalam bisnis ini tidak ada Bos. Semua adalah partner atau mitra kerja. Jadi tidak ada yang berhak mengatur jam kerja. Karena ini adalah bisnis pribadi.

Sehingga kalau dulunya kerja di saat menjadi karyawan mereka bisa masuk kerja jam 8 pagi, dalam bisnis ini mereka tidak melakukan hal yang sama. Tidak jarang malah mereka bangun pagi jam 9... Dan memulai aktifitas kerja bahkan di atas jam 11...bahkan seharian bisa tidak melakukan apapun.

 

Suatu saat, siang hari saya call dia, ternyata dia berada di pusat perbelanjaan, dia bilang kalau mamanya minta diantar. Padahal saat kondisi kerja di bank, situasi seperti ini pasti tidak terjadi.

Mamanya menganggap sekarang bukanlah sebuah pekerjaan tetap. Sebuah pekerjaan freelance. Sehingga bisa dalam satu minggu tidak ada kegiatan prospekting sama sekali.

Dalam banyak kasus lain, yang dulu nya saat menjadi karyawan, anak bisa berangkat sendiri ke sekolah. Namun saat ayahnya tidak menjadi karyawan, malah punya tugas menjadi antar jemput. Tidak salah, bila aktifitas prospek atau bertemu nasabah tetap dilakukan. Ironisnya justru pertemuan nasabah bisa tidak menjadi prioritas,

Dan, akhirnya kita sama sama bisa menebak, dia akhirnya gagal.  Ujungnya dia kembali bekerja di bank. Kembali menjadi karyawan. Dan menambah rekor kegagalan. Bahwa di bisnis ini adalah bisnis yang sulit.

 

Situasi yang lain terjadi. Salah satu agen saya sudah berkeluarga, yang semula menjadi sales lepas sebuah produk bahan bangunan. Karena melihat keberhasilan dari rekannya yang sukses dalam bisnis ini. Yang melihat bahwa rekannya yang semula menggunakan motor, sekarang bisa membeli mobil, sekalipun bekas. Membuat dia tertantang. Dia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan memilih untuk fokus dan fulltime di bisnis ini. Tentu saja Leader nya senang, karena sesuai dengan harapannya.

 

FAKTA BERIKUTNYA...

Dengan semangat tinggi dia melakukan prospek kepada siapa saja yang dia kenal, atau yang belum kenal. Berbagai training dia ikuti, seperti saran Leader nya. Namun belum berhasil mendapat closing. Seminggu masih tahan, sebulan bisa kencangkan ikat pinggang. Setelah lewat dua bulan mungkin belum ada closing besar, sehingga penghasilan masih belum bisa memenuhi kebutuhan pokok. Tabungan semakin menipis. Di kantor mendapatkan semburan motivasi dari Leader. Apakah masih bisa semangat?  Sementara keuangan yang semakin menipis, keperluan keluarga tidak bisa ditahan. Baik kebutuhan pokok ataupun biaya biaya yang ada. Semakin terdesak dengan pengeluaran, akan membuat semakin penuh tekanan ketika melakukan prospekting. Hal ini akan membuat tidak 'sehat'. Aura wajah akan terasa di hadapan calon nasabah. Bahwa dia butuh duit. Dan orang semakin enggan untuk mempercayakan program asuransinya ke agen tersebut. Dan kesabaran keluarga juga ada batasnya. Istri yang membutuhkan uang untuk kebutuhan keluarga. Akhirnya tak tertahankan. Sudah tidak ada kata semangat dari ucapan seorang istri seperti saat awalnya. Namun sudah berupa keluhan manusiawi. Situasi ini akan semakin menekan agen saya. Dan akhirnya....

Dia memutuskan untuk kembali menjadi sales bahan bangunan kembali. Yang lebih mudah mencari order, sekalipun hasil yang didapat tidaklah optimal. Yang penting bagi dia, kebutuhan pokok keluarga bisa terpenuhi. Dan ujungnya, dia meninggalkan bisnis ini dengan pengalaman yang negatif. Kegagalan...

 

PELAJARAN APA YANG BISA DIPETIK?

Belajar dari pengalaman di atas. Saya tidak ingin muncul 'korban korban' berikutnya. Korban akibat kesalahan yang dibuat diri sendiri. Namun saya merasa ikut bertanggung jawab atas 'kegagalan' yang dibuat orang lain khususnya dalam profesi dalam industri life insurance.

Jadi ketika ada seseorang yang memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya, dan akan full time dalam bisnis ini, maka...

Maka akan bijaksana bila mereka mempunyai DUA SYARAT UTAMA.

 Saya tidak akan menanyakan lagi berapa daftar nama yang dia punya. Saya tidak bahas soal keharusan mengikuti semua training yang diadakan. Karena bagi saya semua itu adalah modal dasar. Jadi itu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi tanpa syarat.

 

Yang harus saya utarakan kepada mereka adalah,

PERTAMA, mereka HARUS punya KOMITMEN setiap hari bertemu dan prospek berapa orang. Saya tidak mempersoalkan berapa jam kerjanya. Tapi berapa orang yang MUTLAK harus ditemui. Berapa orang per hari, berapa orang per minggu. Artinya bila dalam hitungan harian belum terpenuhi, maka secara mingguan harus tercapai.

 

Saya tidak berurusan dengan jam berapa dia masuk kerja. Dan tidak perlu tahu, apakah mama nya mengajak atau mengantar untuk ke shopping mall. Yang penting komitmen untuk bertemu dengan prospek TERCAPAI. Mental menjadi enterpreneur lebih menjadi tujuan utama. Bukan mental karyawan yang bekerja berdasarkan jam kerja. Minimal komitmen adalah setiap hari HARUS bertemu dua orang BARU. Dalam seminggu prospek sepuluh orang baru. Tanpa komitmen itu tidak ada gunanya dia fulltime. Selebihnya adalah follow up calon nasabah nasabah yang sudah diprospek.

Yang KEDUA. Yang tidak kalah penting. Perlu dipersiapkan berapa pengeluaran pokok tiap bulan yang HARUS ADA. Perlu perhitungan. Perlu keterbukaan. Karena saya berharap dia mempunyai uang cadangan yang bisa cukup untuk tiga bulan ke depan. Agen yang masih single lebih mudah. Karena cukup mengontrol diri sendiri. Namun yang sudah berkeluarga, apalagi yang sudah memiliki anak, akan mempunyai problem yang berbeda.

Jadi bila seseorang mempunyai pengeluaran 3 juta per bulan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Maka bila dia memutuskan untuk fulltime di bisnis ini, maka harapannya dia mempunyai dana minimal 9 juta dalam tabungannya. Tujuannya bila dalam tiga bulan belum ada closing, maka keluarganya masih bisa bertahan. Tentu saja ini merupakan skenario terburuk. Karena kalau Agen tersebut benar benar mau belajar kepada Leadernya, serta mengikuti training secara bertahap sambil melakukan prospekting, maka waktu tersebut sangatlah cukup untuk menuai hasil.

Bahkan bila agen merupakan sumber income dalam keluarganya, saya perlu untuk bertemu dengan keluarga, apakah itu orang tua - bila dia masih single. Atau istri atau suami bila sudah berkeluarga. Tujuannya, agar keluarganya tahu arti perjuangan dan tekad agen untuk mengubah hidupnya. Dan selama perjuangan, setidaknya dalam tiga bulan mengatur keuangan secara pas pas an. Dan menghindari mengeluh, bahkan sebisa mungkin terlibat dalam memberi semangat. Sehingga Agen dapat bekerja dengan tenang. HAL INI SANGAT PENTING.

 

Dan dengan adanya komitmen dua hal tersebut, maka saya menghindari kegagalan kegagalan yang terjadi. Saya tidak serta merta senang bila mendengar ada Agen yang mau fulltime. Karena tanpa komitmen itu, akan banyak tercipta kegagalan kegagalan baru. Dan akan semakin terbukti, banyak yang gagal dalam bisnis ini.

Jadi JANGAN MEMUTUSKAN UNTUK FULLTIME DI BISNIS ASURANSI, BILA TIDAK PUNYA 2 HAL TERSEBUT. (HC) This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

 

 

Headquarters Visitors (Sejak 10 April 2013)

1614523