New Article Released  " DAFTAR NAMA VERSUS KANVASING "

BEDA APLIKASI TAPI SALING BONCENG
 

Test1234

Test 1234

Live Chat

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Event Calendar

Last month June 2018 Next month
M T W T F S S
week 22 1 2 3
week 23 4 5 6 7 8 9 10
week 24 11 12 13 14 15 16 17
week 25 18 19 20 21 22 23 24
week 26 25 26 27 28 29 30
 

MONITORING DENGAN HATI

 

hatiSering seorang Agen atau FC demotivasi terhadap bisnis yang dihadapi. Mereka demotivasi kadang bukan karena sulitnya mereka dalam hal penjualan, namun bisa disebabkan oleh sikap Leadernya. Mereka merasa selalu ditanya hasil yang dicapai. Padahal seperti yang diketahui bahwa bisnis life insurance mempunyai proses yang bukan instan. Pertanyaan yang menjurus ke hasil menimbulkan dampak negatif. Sehingga seorang agen bisa merasa mendapat tekanan. Seringkali para Leader menanyakan kenapa pada bulan ini tidak ada polis yang dihasilkan. Atau menanyakan ke mana saja selama ini karena tidak pernah ke kantor. Sejumlah pertanyaan yang lebih cocok dilontarkan seorang bos kepada karyawannya. Padahal saat merekrut mereka selalu mengatakan bisnis ini adalah bisnis milik sendiri. Bukan atasan bawahan. Namun kenyataannya ketika mereka sudah bergabung, sikap para leader tidak seperti yang dipresentasikan.

 

Keberhasilan seorang Leader sangat tergantung pada monitoring yang dilakukan pada teamnya. Monitoring bukanlah sebuah sikap mengawasi. Namun pada sebuah tujuan membantu mengarahkan pada tujuan mewujudkan impian.

Monitoring selalu didahului dengan konseling. Bisa dilakukan secara kelompok atau individu. Tergantung pada situasi dan kondisi team. Karena ada orang orang tertentu yang bisa terbuka bersama sama dengan orang lain, namun ada orang yang hanya bisa terbuka ketika saat pertemuan pribadi.

 

1. LANGKAH AWAL BAGI DIRI sendiri adalah Anda harus menetapkan BERAPA INCOME YANG ANDA HARAPKAN DARI BISNIS INI.

 

Sebagai Leader, Anda harus membagi berapa income yang Anda rencanakan dari penjualan prIbadi, dan berapa yang Anda rencanakan dari income overiding. Tentu saja yang ideal haruslah income dari overiding lebih besar dari income komisi penjualan pribadi. Seorang leader yang penghasilannya komisi penjualan pribadinya lebih besar dibanding income dari overiding, akan lebih tepat disebut DEALER. Bukan Leader!!

Misalnya, Anda membuat goal setting income 10 juta perbulan. Dengan komposisi income penjualan pribadi 4 juta dan 6 juta dari overiding.

Dengan demikian Anda tahu harus closing dengan premi berapa untuk mendapatkan income tersebut. Demikian juga Anda harus merencanakan income overiding 6 juta, bisa Anda peroleh dari berapa orang Agen dalam team Anda. Dan dari berapa premi total yang terkumpul dalam team yang Anda perlukan. Dari data tersebut Anda bisa memasukkan dalam catatan pribadi Anda.

 

2. Setelah itu langkah berikutnya, Anda melakukan konseling kepada setiap agen Anda untuk memperoleh informasi yang sama seperti diri Anda. Berapa income yang  diharapkan Agen Anda dalam bisnis ini?

 

Kesalahan yang sering dilakukan para Leader adalah memberi target premi kepada Agennya tanpa melakukan konseling. Sehingga pemberian target tidak ubahnya seperti memperlakukan Agen seperti karyawan. Padahal sejak awal dalam merekrut mereka, dunia bisnis kita mengatakan bahwa mereka adalah partner bisnis, bukan karyawan.

Bila nantinya target pribadi  yang mereka nyatakan tidak mencukupi dengan harapan income Anda sebagai leader, maka Anda harus merekrut lagi Agen untuk memperbesar income sesuai dengan harapan Anda.

 

PERTANYAAN KUNCI:

 

Tanyakan secara pribadi kepada agen Anda,  SAYA SANGAT INGIN ANDA SUKSES. DAN UNTUK MENJALANKAN BISNIS INI, APAKAH LEBIH SUKA SAYA BANTU DENGAN MONITORING, untuk MENGARAHKAN MEWUJUDKAN IMPIAN ANDA?

 Pertanyaan ini penting untuk diajukan. Karena tidak setiap orang suka atau mau dimonitor. Sebagian orang menganggap monitoring adalah bagian dari pengawasan. Namun ada juga orang yang suka dibantu. Karena banyak kegagalan dalam bisnis ini karena kebebasan waktu dan tidak adanya pengawasan dalam aktifitasnya.

Bila jawaban dari FC Anda, intinya menghindari atau menolak monitoring, maka jangan dipaksa!! Biarkan dia jalan dengan caranya sendiri. Namun 'hilangkan' nama dia dari bagian team Anda. Artinya, nama FC tersebut tidak perlu Anda masukkan dalam portopolio team Anda.

Sering seorang Leader melakukan konseling dengan saya. Dan ketika saya tanya berapa jumlah agennya. Dan dia menjawab mempunyai 8 agen. Tapi ketika pertanyaan saya pertajam, dari agen sebanyak 8 orang, apakah Anda bisa memperkirakan berapa yang bisa berkontribusi dalam income Anda? Leader itu terdiam, dan tidak bisa menjawab. Karena Leader tersebut tidak mempunyai perkiraan produksi dari semua agennya. Jadi boleh dikatakan secara formalitas dia mempunyai 8 orang Agen, namun kenyataannya, dia tidak mempunyai agen sama sekali. Apa yang harus dilakukan? Saya sarankan HARUS MEREKRUT lagi, dan 8 nama yang sudah ada anggap saja tidak ada. Bukan berarti tidak dihandle, namun tidak perlu dharapkan dalam produksi team. Kalaupun ada case masuk, anggaplah sebagai berkat yang tiba tiba. Portopolio team, adalah sejumlah nama yang bisa Anda monitor produksinya. Bisa Anda monitor aktifitasnya.

 

BILA JAWABAN AGEN : BERSEDIA, maka lanjutkan dengan langkah berikut...

 

1. Agen mengisi form daftar nama calon prospeknya.

Dari form yang telah diisi tersebut, kita bisa melihat berapa jumlah orang yang mempunyai prospek. Dari jumlah itu bisa dipilah lagi, berapa orang yang merupakan kategori orang kaya dan banyak uang, berapa jumlah orang yang  mempunyai hubungan dekat, dan berapa orang yang memungkinkan 'membantu' Agen.

Form ini adalah parameter awal tentang kesuksesan. Karena tanpa daftar nama seorang Agen seperti tanpa darah. Memang dalam beberapa histori Agen yang ulet akan menutupi kekurangan dia dalam memiliki daftar nama. agen tersebut mau melakukan cold canvasing, artinya berani mengadakan prospekting pada orang orang yang belum dikenalnya. Dengan cara mendatangi pusat keramian, semacam toko toko, atau pusat perbelanjaan. Di sana mereka melakukan prospek pada orang yang yang tidak dikenal. Baik pemilik toko, pegawai, atau pengunjung. Cara ini cukup melelahkan dan siap mental. Karena tidak setiap orang suka mendapat penawaran dari orang yang tidak dikenal.  Bahkan tidak sedikit menolak dengan cara yang kasar. Agen yang ulet akan bisa melewati situasi ini. Karena setelah dia mendapat nasabah, selanjutnya dia meminta referensi dari nasabah tersebut untuk dikenalkan pada teman atau keluarganya.

 

2. Tanyakan ke Agen berapa income atau impian yang diharapkan dari bisnis ini?

Segala bentuk impian HARUS BISA dinominalkan rupiah. Sehingga memudahkan dalam membuat program.

Impian dan tujuan bisa jangka pendek, menengah, atau panjang.

Tujuan jangka pendek, misalnya membayar kebutuhan hidup dan kewajiban kredit.

Tujuan jangka menengah mungkin membeli motor, atau membeli mobil. Dan sejumlah tujuan dengan nominal yang tidak realistis dicapai dalam hitungan sebulan.

Selanjutnya mungkin Agen mempunyai tujuan jangka panjang misalnya membeli rumah dan lain sebagainya.

Semua nominal angka yang didapatkan selalu harus dikonversikan ke pendapatan per bulan. Misalnya, seorang ingin membeli mobil seharga 100 juta dalam kurun waktu se tahun. Maka artinya dalam sebulan Agen tersebut harus mendapat komisi setidaknya 8,5 juta per bulan. Dengan mengertahui Agen memerlukan income sejumlah itu, maka Anda sudah mengetahui berapa jumlah premi yang harus dihasilkan.

 

3. Mintalah Agen mengisi form tentang Manajemen Waktu.

Agen mengisi form tersebut, dengan mengisi kolom waktu yang dia bisa melakukan bisnis tanpa ada halangan. Biarkan dia mengisi sesuai komitmennya.

Persoalan Agen belum bisa full time tidak menjadi masalah. Yang jadi masalah adalah bagaimana Agen mau atau bisa membagi waktunya, dan mau menginvestasikan waktunya buat bisnis ini.

Mengapa manajemen waktu demikian penting? Karena banyak Agen baru yang mempunyai impian yang harus dicapai, namun tidak mau atau tidak bisa membagi waktunya dalam bisnis ini. Sehingga impiannya tidak bisa dicapai, dan ujungnya menyalahkan bisnis ini. Dan menganggap gagal dalam bisnis ini, padahal kenyataannya mereka sama sekali tidak memberikan waktunya buat menjalankan bisnis ini.

Setelah form tersebut terkumpul, sekarang Anda bisa mengetahui management waktu para Agen. Sehingga Anda bisa mengatur waktu bagi Anda sebagai Leader untuk bisa membina dan mendampingi mereka dalam bisnis ini.

Yang perlu diperhatikan, setelah mengetahui berapa total premi yang bisa dihasilkan team setelah mengkonversikan income mereka setara dengan premi yang dihasilkan, maka ANDA CUKUP MEMASUKKAN 50% SAJA DALAM FORM GOAL SETTING ANDA. Tujuannya agar bila mereka tidak memenuhi target pribadi mereka, goal setting income Anda tidak akan berpengaruh. Sebaliknya bila mereka semua memenuhi target, maka income Anda akan mencapai 200%.

Contoh:

Agen A : income 3 juta/ bulan.

Agen B : income 4 juta/ bulan.

Agen C : income 5 juta/ bulan.

Berarti total income team Anda 12 juta/ bulan.

Dan Anda bisa menghitung berapa potensi income overiding Anda. Namun Anda cukup memasukkan 50% saja.

Kalau income tersebut tidak mencukupi, maka Anda harus merekrut lebih banyak Agen. Karena prinsipnya JANGAN MENGGANTUNGKAN INCOME ANDA PADA AGEN. Karena banyak Leader yang menggantungkan penghasilannya pada Agen, akan membuat perilakunya selalu menunggu dan berharap Agen tersebut closing. Tanpa sadar setiap pertanyaan pada konseling akan mengarah pada pertanyaan tentang closing. Yang membuat Agen akan merasa tidak nyaman, seolah menjadi objek mesin uang, atau jadi sapi perah..

 

4. Dan tanyakan ke Agen, dalam melakukan monitoring nantinya, apakah lebih suka dengan mengingatkan via text message, atau langsung di telepon? Atau bahkan tatap muka? 

Bila dengan text message, apakah suka di pagi hari, tengah hari, sore, atau malam  hari? Atau mingguan? Demikian juga bila pilihannya harus melalui telepon, berapa frekuensinya? Harian, atau periode tertentu. Kalau tatap muka, kapan waktunya, dimana tempatnya?

Semuanya harus jelas, dan ke dua belah pihak melakukan dengan ketulusan dan kerelaan. Karena sering terjadi, hal ini menjadi pemicu konflik. Keterbukaan akan membuat akan terjadi saling pengertian. Dan leader akan melakukan sesuai keinginan agen.

 

Dengan cara ini maka akan menghindari konflik yang terjadi antara seorang Leader dan teamnya. Khususnya tentang rasa di monitor. Sehingga monitoring akan terjadi dengan ketulusan. Tanpa ada tekanan. Mulai saat ini, sebagai Leader, lakukan Monitoring dengan hati!! (HC) This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

 

 

 

Headquarters Visitors (Sejak 10 April 2013)

1559375