insurance

Apakah produk asuransi yang kita jual benar-benar berguna untuk nasabah kita? Sepanjang 4 tahun pengalaman saya di industri asuransi, pertanyaan ini seringkali muncul dalam benak agent, beberapa langsung menanyakan kepada saya, yang lainnya memutuskan hanya bertanya-tanya dalam hati. Banyak sekali agent yang berpandangan bahwa ketika menjual produk asuransi, “seolah-olah” yang mendapatkan keuntungan terbesar adalah sang penjual, karena mendapatkan komisi. Ketika mindset ini yang muncul maka banyak sekali agent yang tidak berani menjual atau menawarkan produk asuransi kepada calon nasabahnya.

Merasa sungkan, tidak enak, takut dikira memanfaatkan hubungan yang sudah baik, dan sebagainya. Banyak skenario pemikiran negatif yang muncul karena merasa produk yang dijual tidak benar-benar berguna.

Sebelum saya menjawab pertanyaan dan pemikiran di atas, saya ingin sekali mensharekan pengalaman pribadi saya pada Anda sekalian, sehingga Anda semua dapat merenungkan dan menjawab sendiri pertanyaan di atas.

Dari kecil saya termasuk seorang anak yang tumbuh dengan sehat. Hingga memasuki masa remaja bahkan dewasa. Jarang sekali saya mengalami sakit yang berarti dan tentunya saya tidak pernah berharap sakit atau berpikiran sampai rawat inap. Ketika pertama kali berbisnis asuransi, pemikiran di atas juga ada dalam benak saya, bahkan saya juga berpikir bahwa saya tidak perlu asuransi karena saya sehat dan tidak pernah masuk rumah sakit sejak kecil. Ketika saya prospek, saya mengedukasi calon nasabah bahwa asuransi itu diperlukan untuk berjaga-jaga ketika resiko yang tidak diinginkan terjadi. Bahkan sampai saya sudah memiliki banyak nasabah, saya masih belum memiliki asuransi pribadi. Sampai pada satu titik, ketika prospek, banyak nasabah saya yang bertanya “kamu sendiri sudah punya asuransi belum?”. Terus terang saya kebingungan menjawab pertanyaan tersebut. Banyak objection yang bisa saya atasi, namun ketika menghadapi pertanyaan tersebut, saya sulit sekali menjawabnya. Pada akhirnya, di pertengahan tahun 2009, saya memutuskan untuk membeli asuransi pertama saya. Awalnya hanya karena merasa untuk kepentingan prospek saja (karena saya tetap merasa sehat). Yang menarik, siapa sangka, 1 bulan setelah saya membeli asuransi tersebut, saya mengalami diare akut. Wow, pada saat itu untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya harus menjalani rawat inap dikarenakan kondisi yang pada saat itu benar-benar lemas dan pucat. Pada saat pertama kali masuk UGD, kegunaan asuransi sudah dapat saya rasakan, saya hanya tinggal memberikan kartu saya kepada perawat yang ada dan pihak rumah sakit langsung memberikan tindakan perawatan kepada saya, tanpa basa basi, tanpa harus deposit (uang muka), tanpa bertanya yang aneh-aneh, padahal kalau dipikir-pikir saya bahkan belum sempat menulis data-data pada form pendaftaran UGD. Berbeda dengan pasien disebelah saya yang tidak memiliki asuransi, pihak rumah sakit meminta pihak keluarganya untuk terlebih dahulu melengkapi data yang ada dan menitipkan sejumlah uang jaminan deposit. Akhirnya saya dirawat di kelas kamar yang cukup bagus dan nyaman. Sepanjang saya dirawat, pihak rumah sakit tidak pernah menanyakan tentang uang deposit, apakah setuju dengan harga yang ada untuk pemeriksaan laboratorium atau obat tertentu. Saya pun dapat beristirahat total karena saya sudah tidak memikirkan lagi biaya yang akan timbul karena limit asuransi saya pasti lebih dari cukup. Alhasil saya dirawat inap selama 5 hari, dan betapa terkejutnya saya ketika melihat billing yang muncul untuk perawatan diare saya, kurang lebih 11 juta. Ya, saya tahu Anda pun berpikiran sama dengan saya saat ini, MAHAL!!.

Tapi dengan asuransi yang saya miliki, malah saya mendapatkan surplus 2 juta dari pembayaran klaim yang ada.

Pertengahan Maret 2013 kejadian yang sama terulang lagi, dalam sejarah hidup saya, untuk kedua kalinya saya harus rawat inap karena penyakit yang sama, diare. Kali ini lebih mengerikan, saya dirawat inap selama 2 hari dan billing yang harus saya bayar sebesar 5.7 juta. Lagi-lagi saya diselamatkan oleh asuransi. Saya tidak perlu mengeluarkan uang tersebut untuk membayar tagihan rumah sakit. Yang menarik, ketika saya berada di kasir rumah sakit, saya melakukan interview singkat, saya bertanya “Mbak, saat ini lebih banyak mana orang yang membayar secara pribadi atau membayar menggunakan asuransi?”. Kasir tersebut dengan antusias menjawab, “60-70% menggunakan asuransi Pak!!”. Kemudian saya ditunjukkan buku untuk tanda tangan para pasien yang menggunakan asuransi, luar biasa, perkataan kasir tersebut sungguh terbukti. Pada buku tersebut saya dapat melihat perusahaan asuransi yang bervariasi sudah membayarkan klaim untuk para nasabahnya.

Ketika nasabah kita membeli asuransi, memang seakan-akan nasabah kita “dipaksa” untuk rutin menabung. Namun ketika resiko itu terjadi, dan klaim terbayar, maka nasabah kita akan menyadari ternyata menabung di asuransi sangat bermanfaat. Berbeda dengan ketika kita menabung di bank. Tidak ada proteksi dan perlindungan apa pun yang diberikan.

Jadi kawan, setelah membaca artikel ini saya berharap Anda sekalian dapat menjadi semakin percaya diri dan mengerti, bahwa produk yang Anda dan saya jual ini adalah produk yang benar-benar berguna untuk nasabah kita.

Produk asuransi seakan-akan tidak berguna ketika nasabah kita sehat-sehat saja, tetapi percayalah, ketika resiko yang tidak diinginkan terjadi, nasabah Anda akan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Anda, karena telah memberikan mereka produk yang terbaik.

Segera prospek calon nasabah Anda, karena meskipun Anda tidak prospek mereka, mereka akan tetap membelinya asuransi dari agent yang lain. Masih ragu atau percaya itu keputusan Anda. (PS)

hq animasi11

Ruko HR. Muhammad Square Blok C-27
Jl. Raya Darmo Permai II Surabaya
Jawa Timur - Indonesia