New Article Released  " INDONESIA LUAR BIASA "

BEDA APLIKASI TAPI SALING BONCENG
 

Test1234

Test 1234

Live Chat

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Event Calendar

Last month September 2018 Next month
M T W T F S S
week 35 1 2
week 36 3 4 5 6 7 8 9
week 37 10 11 12 13 14 15 16
week 38 17 18 19 20 21 22 23
week 39 24 25 26 27 28 29 30
 

HITAM PUTIH UNIT LINK, APAKAH MASIH ABU ABU ?

 

abuabuDalam era saat ini hampir semua perusahaan life insurance menjual produk unit link. Karena produk ini lahir setelah masyarakat lebih kritis tentang imbal hasil. Dimana saat lalu produk endowment yang seakan memberi kepastian terhadap pengembalian kepada nasabah, namun kenyataannya hasil yang diterima lebih kecil dibanding bunga deposito.

Produk unit link setelah menuju dua dasawarsa di Indonesia menimbulkan pengalaman yang berdampak pada perilaku nasabah. Pada periode awal dilahirkannya, agen asuransi kurang percaya diri dalam memasarkan produk ini. Karena saat mereka mengikuti training, bahasa yang ditanamkan oleh para pengajar adalah TIDAK DIJAMIN. Sehingga agen asuransi merasa tidak mampu mengucapkan kata tersebut kepada calon nasabahnya, mengingat selama ini dalam menjual produk endowment kepastian dana nasabah yang mereka utamakan.

Sekitar 2 - 3 tahun awal, di penghujung tahun 1999 atau awal tahun 2000 an penjualan produk unit link belumlah menunjukan hasil penjualan yang bagus. Saat ini adalah situasi transisi psikologi Agen penjual. Karena mereka belum mempunyai kepercayaan diri menjual produk yang 'tidak dijamin'. Seakan mereka punya persepsi kalau calon nasabah akan menolaknya. Ditambah lagi pengetahuan agen agen yang lanjut usia dan pendidikan yang terbatas kesulitan dalam belajar khususnya dalam bidang investasi. Banyak istilah baru yang harus mereka pahami. Mulai pengetahuan umum tentang investasi. Instrumen investasi, ragam dan kombinasinya. Institusi yang terlibat, tugas dan kewajiban Manager Investasi, dan Bank Kustodian. Pengenalan reksadana, jenis kumpulan dana, dan ragamnya. Hingga masuk pada penggabungan dengan biaya asuransi yang meliputi Cost of Insurance (COI), Cost of Administration (COA), Cost of Rider (COR), dan berapa akuisisi dari produk tersebut. Belum lagi perkembangan produk unit link yang mempunai sistem biaya yang berbeda. Yang mengambil biaya di depan, disebut Front End System. Sedangkan yang mengambil biaya di belakang disebut Back End System. Hal ini semua harus dikuasai seorang agen, agar mereka bisa menjelaskan bila ada pertanyaan calon nasabah. Juga bisa membandingkan dengan logis antara produk yang satu dengan produk yang lain, khususnya juga harus membandingkan dengan produk dari company yang berbeda. Tanpa mengetahui jenis dan ragam tersebut seorang agen penjual akan dibuat bingung. Dengan ketidak mengertinya membuat presentasi yang cenderung bisa menjelekkan produk kompetitor.

Baru setelah lewat periode 5 tahun pertama, dimana reksadana di Indonesia menunjukkan hasil pertumbuhan yang bagus. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang mulai bergeliat menanjak pasca krisis tahun 1998, harga NAV naik signifikan. Tentu saja hal ini menjadikan berita gembira. Dan para Agen asuransi mulai tumbuh kepercayaan dirinya untuk memasarkan produk unit link. Dan Boom !!!

Unit link mulai dilirik oleh banyak investor. Masyarakat tanpa sadar sudah meninggalkan produk konvensional semacam endowment atau whole life. Masa keemasan unit link mulai bersinar bahkan gemerlapan.

 

Apalagi dalam perencanaan keuangan, unit link merupakan produk yang memenuhi persyaratan dari sebuah investasi.

WEALTH ACCUMULATION

Suatu investasi yang membentuk akumulasi dari sebuah kedisiplinan. Dimana investor punya kewajiban tahunan, atau bulanan secara reguler dalam kurun waktu tertentu. Hal ini tidak dimiliki oleh instrumen yang lain. Karena kewajiban reguler unit link akan 'memaksa' setiap orang untuk disiplin menyisihkan penghasilannya untuk pembayaran premi.

 

WEALTH ACCELARATION

Hasil investasi tersebut mampu memberikan akselerasi imbal hasil yang exponensial. Karena keterbatasan persyaratan yang membuat nasabah tidak bisa sewaktu waktu mengambil hasilnya, membuat dana nasabah bisa bertumbuh dengan potensi yang maksimal.

 

WEALTH PROTECTION

Hanya unit link satu satunya yang memiliki perlindungan penghasilan melalui proteksi life insurance. Karena elemen investasi yang lain sama sekali tidak mengandung unsur proteksi. Sehingga bila seseorang menyisihkan penghasilannya di unit link, bila terjadi resiko, masuk rumah sakit, sakit kritis, dana investasinya tidak akan berkurang (bila dalam produk yang dimiliki dilengkapi dengan rider yang berhubungan dengan resiko tersebut), bahkan bila terjadi resiko meninggal akan keluar sejumlah uang pertanggungan.

 

WEALTH DISTRIBUTION

Melalui unit link dana investasi bisa punya banyak alternatif. Untuk dana pendidikan anak, atau dana pensiun, bahkan untuk perencanaan warisan.

 

Ueforia unit link sempat mengalami penurunan ketika pasar ekonomi terimbas situasi dunia. Sekitar 2005 kondisi ekonomi sedikit bermasalah, sehingga cukup menyenggol dunia investasi dan reksadana. Banyak nasabah dan agen yang shock. Mereka baru sadar bahwa investasi tidak selamanya bisa konstan bertumbuh. Ada masa masa yang menyebabkan investasi mengalami penurunan. Masa itu terjadi pergolakan perilaku nasabah. Banyak kepanikan. Sehingga dana investasi banyak yang diambil atau withdrawal dalam situasi harga di bawah. Mereka rela mengalami kerugian. Ketakutan akan penurunan harga yang tidak bisa diprediksi.

Pasar yang sempat melambat, hingga trauma mulai pudar perlahan. Seiring dengan mulai recover nya pertumbuhan ekonomi. Harga NAV mulai merangkat naik mendekati angka semula sebelum krisis. Kondisi demikian menimbulkan penyesalan bagi nasabah yang panik sehingga harus mencairkan dananya. Ini nantinya akan membentuk perilaku baru bagi nasabah.

 

Tahun 2008, krisis menghantam dunia. Di mulai dengan subprime morgate di Amerika. Dimana kredit perumahan yang booming di Amerika sampai pada titik jenuh yang menyebabkan gagal bayar secara massal. Efek domino berdampak pada hampir semua sektor. Imbasnya Asia Tenggara termasuk Indonesia mengalami situasi yang sama. Index saham di Dow Jones yang terjun bebas, diikuti dengan bursa saham dunia termasuk di Indonesia. Dampaknya jelas berpengaruh pada harga NAV reksadana maupun unit link. Kepanikan tetap terjadi. Harga NAV anjlok drastis dalam hitungan hari. Harga NAV terjun bebas hingga 70% dalam hitungan minggu. Dalam laporan transaksi dana nasabah hanya tinggal di kisaran 30% an. Nasabah yang tidak kuat akan memutuskan untuk mengambil dana berapapun yang tersisa. Mereka seakan berpikir, ambil segera daripada habis!!

 

Untuk nasabah yang dalam perencanaannya membutuhkan uang, baik untuk dana pendidikan anak, maupun yang dipergunakan untuk dana pensiun, mereka semua menderita!!

Rencana anak yang akan melanjutkan pendidikan di universitas ternama atau ke luar negeri, mereka harus berubah haluan. Universitas yang dipilih kategori yang lebih bawah, dan dana pensiun harus ditunda. Mereka hidup hemat.

Bagaimana situasi agen saat itu? Yang notabene di kartu nama mereka tercantum jabatan mereka sebagai Financial Consultant? Financial Advisor? Atau sejenisnya...

Mereka saat itu sampai takut memberi penjelasan ke nasabahnya. Mereka tidak tahu harus berbuat bagaimana. Banyak telpon nasabah yang mereka tidak berani menerimanya. HP agen banyak yang terpaksa harus off. Mereka stress!!

 

Dengan gambaran di atas, maka pelaku penjualan unit link harusnya punya pemahaman yang sama. Sekalipun produk unit link merupakan penggabungan antara kumpulan investasi atau reksadana dan asuransi, namun elemen investasi merupakan bagian yang utama. Karena sekalipun tiap perusahaan bisa mempunyai perbedaan komposisi akuisisi, namun pada tahun tertentu semua dana nasabah akan masuk 100% pada timba investasi. Sehingga mampu memberikan imbal hasil dengan manfaat hidup yang memungkinkan di atas bunga deposito, bahkan bisa berlipat ganda.

Oleh karena itu, sebagai pelaku penjualan unit link haruslah konsentrasi atas setiap kondisi dari proses investasi. Ironisnya banyak Agen asuransi yang sama sekali tidak memperhatikan atau melakukan pembiaran terhadap produk yang mereka jual.

 

Seakan investasi akan berjalan sendiri. Mereka kadang sibuk pada elemen asuransinya. Yang jelas jelas elemen asuransi adalah elemen yang statis. Sedangkan investasi pada unit link adalah sangat dinamis.

Apakah mungkin seorang Agen bisa memperhatikan posisi investasi dari setiap nasabahnya? Kalau ada yang menjanjikan akan terus bisa update dan menjaga investasi nasabahnya, itu semua kebohongan besar!!! Kecuali nasabahnya jumlah hanya 5 orang. Padahal semua penjual berharap pumya nasabah sebanyak mungkin.

Apakah nasabah bisa menjaga dan selalu ingat dengan kondisi investasinya? Hal ini juga sangat tidak mungkin. Mereka tidak punya waktu untuk itu. Mereka sibuk dengan bisnis mereka masing masing. Padahal dulu mereka beli, salah satunya karena tertarik ketika agen penjual mempresentasikan dengan ilustrasi produk dengan imbal hasil yang tinggi. Penjual kadang menunjukkan pertumbuhan NAV di company mereka, yang saat sedang berkembang bagus. Mereka tidak pernah menunjukkan skenario jeleknya.

Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah fitur yang bisa menjaga investasi nasabah untuk membatasi kerugian. Semacam rem dalam kendaraan bermotor, atau airbag sebagai pengaman bila terjadi benturan keras.

 

Saat ini fitur pengaman investasi unit link dinamakan ARMS, hasil kreasi Generali Indonesia. Yang bertujuan untuk membatasi kerugian, namun keuntungan tanpa batas.

Sebagai seorang penjual asuransi yang berpredikat perencana keuangan sudah bukan masanya lagi untuk menutup diri dari teknologi yang beredar. Karena fitur ini sangat dibutuhkan oleh nasabah maupun agen penjual. Dalam situasi normal memang ARMS bisa tidak dibutuhkan. Seperti saat yang lalu, saya juga merasa airbag seakan tidak ada artinya. Namun ketika anak saya berkendara mobil dengan kecepatan tinggi, mobilnya menabrak tiang akibat salah satu bannya bocor, mobil bagian depan hancur. Namun anak saya selamat. Airbag keluar secara otomatis. Dirasakan kegunaannya saat ada kecelakaan. Dan itulah ARMS dalam investasi. Manfaatnya terbukti saat ada krisis.

Dalam situasi beberapa waktu terakhir, keadaan ekonomi masih gonjang gonjing akibat banyak faktor. Penguatan US dollar terhadap mata uang dunia berimbas terhadap perilaku pasar. Dengan membaiknya perekonomian di Amerika menyebabkan investor kembali melirik ke sana. Saham dalam negeri yang semula banyak kapital asing perlahan ditarik keluar. Sehingga terjadi sentimen negatif. Harga NAV turun secara signifikan. Memang bukan penurunan drastis. Namun konstan turun. Nasabah masih diam, berpikir harga akan kembali rebound seperti saat yang lalu. Agen penjualan sekalipun resah namun tidak ada tindakan yang berarti. Di saat seperti ini fungsi fitur ARMS terlihat nyata. Harga NAV terjadi penurunan. Para Fund Manager tidak bisa membendungnya, tapi dengan terjadinya pemindahan alokasi dana equity fund sebagai penyelamatan, switching ke alokasi dana money market setidaknya menghindarkan potensi kerugian yang lebih besar. Fungsi rem pada mobil dijalankan. Membatasi kerugian. Ketika harga NAV kembali turun, maka switching 'otomatis' kembali dijalankan. Maka dana kembali ke alokasi equity fund dengan harga yang lebih rendah. Sehingga sekalipun tanpa mengeluarkan uang sepeserpun, di dalam laporan transaksi akan terjadi PENAMBAHAN UNIT. Biasa penambahan unit hanya terjadi karena Top Up, namun melalui ARMS, fitur auto re entry bisa melakukan hal itu. Woow...Tanpa top up, unit bertambah !!!

 

Di dalam contoh tabel di bawah, merupakan laporan transaksi real dari salah seorang nasabah. Dari sana sebagai perencana keuangan bisa melihat bagaimana begitu berfungsinya fitur Auto Risk Management System.

Unit link adalah bentuk investasi. Layak dijaga, agar bisa memberi imbal hasil yang maksimal. (HC) This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

 

 

Headquarters Visitors (Sejak 10 April 2013)

1614496