as jiwa

"Ya bagus sih penghasilannya....tapi ngga ah kalo kerja nawarin asuransi jiwa...karena belum nawarin uda ditolak...."
Ungkapan kata kata di atas memang sering terdengar dari orang yang ditawarin berbisnis asuransi (jiwa). Mereka sudah berkecil hati. Karena belum apa apa mereka sudah mendengar penolakan. Mereka sadar bahwa dari segi penghasilan bisnis asuransi sangat menjanjikan, namun secara harga diri mereka belum siap menerima bila mendapat penolakan dari masyarakat atau calon nasabahnya. Mereka merasa tertolak secara pribadi. Sehingga menyakitkan perasaan mereka ketika calon nasabah tidak mau membeli.

Bagi saya, selama dua dasawarsa mengenal bisnis asuransi, memang bisnis ini adalah bisnis yang penuh penolakan. Bahkan hampir tidak ada orang yang membeli asuransi. Artinya produk ini adalah produk yang dijual, bukan dibeli.
Menurut saya pribadi, awal penolakan orang untuk membeli asuransi dimulai dari kesalahan terjemahan bahasa. Saya tidak tahu mengapa kata Life Insurance diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Asuransi Jiwa. Padahal kata menggunakan terjemahan bebas, kata Life Insurance lebih cocok diterjemahkan menjadi Asuransi Kehidupan.
Apa arti sebuah nama ? Sepertinya sederhana, namun akibat terjemahan yang tidak tepat, menyebabkan persepsi yang salah. Orang takut berhubungan dengan asuransi jiwa, karena seakan akan timbul tindakan yang salah, mengasuransikan jiwanya. Memberi harga kepada nyawanya. Tidak salah bila banyak pemuka agama yang juga akhirnya salah mengartikannya, sehingga dalam dahwah atau kotbahnya, memberikan pengertian bahwa kalau ikut asuransi jiwa adalah tindakan yang tidak berharap atau berserah kepada Tuhan. Karena nyawa adalah milik Tuhan, maka manusia tidak berhak menjaminkan nyawanya kepada pihak lain. Menggunakan kata jiwa, seakan akan orang yang membeli asuransi, dekat yang namanya kematian. Sehingga jadi menakutkan bagi sebagian atau banyak orang.
Padahal bagi perencana keuangan, asuransi dimiliki bukan seseorang harus meninggal, namun keluarga yang ditinggalkan harus tetap hidup dengan layak.
Jadi harusnya lebih tepat disebut sebagai asuransi kehidupan.
Dari awal persepsi yang salah inilah, awal dari penyebab masyarakat menjauhi yang namanya asuransi jiwa. Bahkan secara ekstrem, banyak yang mengatakan, "aku mau kalau asuransi rumah atau mobil, tapi kalau jiwa, aku ga mau...."
Dari sini kelihatan, bahwa mereka punya pengertian yang salah.
Membeli asuransi (jiwa) seperti menggadaikan nyawa mereka ke pihak lain.
Mereka rela menggadaikan resiko mobil mereka, properti mereka ke pihak lain, tapi bukan jiwa atau nyawa mereka.
Hanya karena terjemahan yang salah, dan tidak ada yang peduli untuk mengganti ke kata yang benar, menimbulkan salah kaprah yang berkesinambungan dari generasi ke generasi.
Membeli polis asuransi (jiwa) sebenarnya adalah memiliki garansi penghasilan. Dalam arti kata, bila seseorang kepala keluarga, ayah, mempunyai polis asuransi dengan sejumlah uang pertanggungan tertentu, tujuannya adalah apabila kepala keluarga tersebut meninggal, maka klaim yang dibayarkan sesuai uang pertanggungannya, bisa dipergunakan untuk mengganti penghasilan kepala keluarga tersebut.
Istri kehilanngan sosok suami, anak anak kehilangan sosok ayah, namun keluarga tidak kehilangan penghasilan. Suami meninggal tidak berarti pengeluaran keluarga berhenti. Ayah meninggal tidak berarti anak anak harus berhenti sekolah karena tidak ada biaya. Itulah fungsi utama memiliki asuransi yang merupakan salah satu program perencanaan keuang keluarga.

Hal lain yang membuat masyarakat enggan memiliki asuransi, karena masih tercipta mitos mengurus klaim susah, dan perusahaan asuransi akan mempersulit klaim untuk menghindar dari kewajiban membayar klaim.
Sebenarnya mengurus proses klaim tidaklah sulit seperti yang dibayangkan. Sejumlah petunjuk sudah tercantum dalam polis. Bahkan beberapa support sistem agensi memberi panduan secara grafis yang mempermudah nasabah untuk melakukannya. Justru hambatan lebih banyak dari pihak lain yang harus terlibat dalam proses. Misalnya ada Form yang harus diisi oleh dokter yang merawat. Dan pada saat yang bersamaan sang dokter lagi tidak berada di tempat. Oleh karena itu, tentu saja peran agen disini sangat diperlukan. Karena kelengkapan form akan sangat membantu dalam proses pencairan klaim. Pada umumnya, bila semua form diisi lengkap, dan semua persyaratan polis, misalnya lewatnya masa tunggu penyakit tertentu, proses klaim pada umumnya membutuhkan waktu 14 hari kerja.
Sebenarnya dalam akal sehat, perusahaan asuransi itu didirikan dengan tujuan membayar klaim. Karena pembayaran klaim yang cepat merupakan promosi atau iklan yang bagus buat perkembangan perusahaan. Sebaliknya kalau ada perusahaan asuransi yang berniat mempersulit klaim, sepertinya menggali lubang kuburnya sendiri. Apalagi masyarakat sekarang sangat kritis terhadap pelayanan. Surat Pembaca dan media sosial lainnya bisa menjadi ajang curhat siapa saja yang menemui situasi yang merugikan.

Bagaimana dengan sikap Agen terhadap nasabahnya? Apakah juga membuat masyarakat menjauh dari dari asuransi?
Tanpa berusaha menutupi, memang harus diakui, bahwa peran agen juga mempunyai dampak terhadap nasabahnya. Banyak pengakuan dari nasabah asuransi yang merasa dikorbankan oleh agennya. Mereka tidak menawarkan produk yang menguntungkan bagi nasabah, namun lebih memikirkan keuntungan pribadi si agen. Karena penghasilan agen diperoleh dari komisi, maka agen menjual ke nasabahnya produk yang memberi komisi yang terbesar, tanpa peduli apakah sesuai dengan kebutuhan nasabah atau tidak. Sikap agen yang hanya memberi pelayanan baik ketika masih dalam taraf penawaran, dan ketika nasabah sudah membeli, kondisi sikap agen berbalik seratus delapan puluh derajat. Susah dihubungi, dan tidak membantu saat nasabah membutuhkan bantuan pertanyaan seputar polisnya. Hal demikian yang membuat nasabah kecewa, dan kekesalannya tidak ditumpahkan ke agen, namun berbentuk kekecewaan pada produk asuransinya. Bahkan pada masa yang lalu, sering terdengar berita, agen yang tidak menyetorkan premi nasabah yang sudah diberikan kepadanya. Uang tersebut dipergunakan untuk kepentingan pribadinya, dan polis nasabah menjadi lapse, yang mengakibatkan ketika klaim tidak terbayar. Berita berita miring tersebut sangat cepat tersebar, sehingga membuat nasabah menjauhi program asuransi. Pengalaman pahit yang dialami nasabah bergulir dari mulut ke mulut, sehingga memberi dampak citra yang buruk pada masyarakat.

Bagaimana dengan sekarang?
Secara statistik memang di Indonesia masih sangat kecil masyarakat memiliki program asuransi secara pribadi. Sampai tahun 2011 baru kurang dari 4% yang mempunyai polis individu. Sangat jauh dibanding dengan negara tetangga kita Malaysia yang sudah mencapai 45% dari jumlah penduduknya. Apalagi kalau kita bandingkan dengan Jepang., dimana satu penduduk mempunyai 3 polis. Kesadaran asuransi di Jepang sangatlah tinggi.
Namun pertumbuhan asuransi di Indonesia dari tahun ke tahun bertumbuh pesat. Rata rata pertumbuhan premi naik 20% setiap tahunnya. Kondisi positif ini menunjukkan situasi yang makin berbenah. Agen agen asuransi sekarang mulai melengkapi dirinya dengan pengetahuan, ketrampilan sebagai Perencana Keuangan. Sehingga dalam melakukan penjualan bisa memberi konsultasi seputar perencanaan keuangan yang imbasnya bisa memberi produk yang sesuai dengan tujuan masing masing keluarga. Training yang berkesinambungan dari perusahaan dan support sistem agensi akan makin menajamkan keprofesinalan para agen di lapangan. Sehingga kondisi nasabah yang kecewa terhadap agennya makin mengecil. Pembenahan yang dilakukan perusahaan asuransi juga mengikuti perkembangan. Prosedur dan bikrokrasi yang rumit mulai disederhanakan. Kemajuan teknologi informasi juga dimanfaatkan. Langkah ke depan, nasabah harusnya tidak memerlukan datang ke kantor asuransi. Cukup dengan email dan website, nasabah bisa mendapatkan servis yang dibutuhkan.
Semua elemen bergerak menuju kesadaran berasuransi bagi masyarakat. Perubahan demi perubahan dilakuan, baik secara individu maupun institusi untuk kemajuan bersama. Agen berbenah dengan lebih profesional di lapangan. Perusahaan berbenah dengan sistem pelayanan. Namun..siapa yang bertanggung jawab untuk mengubah terjemahan asuransi JIWA ??? (HC)

hq animasi11

Ruko HR. Muhammad Square Blok C-27
Jl. Raya Darmo Permai II Surabaya
Jawa Timur - Indonesia