New Article Released  " INDONESIA LUAR BIASA "

BEDA APLIKASI TAPI SALING BONCENG
 

Test1234

Test 1234

Live Chat

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Event Calendar

Last month December 2018 Next month
M T W T F S S
week 48 1 2
week 49 3 4 5 6 7 8 9
week 50 10 11 12 13 14 15 16
week 51 17 18 19 20 21 22 23
week 52 24 25 26 27 28 29 30
week 1 31
 

ASURANSI ADALAH PENGALIHAN RESIKO, BAGAIMANA DENGAN UNIT LINK ??

 

unit-link

 

Ketika kita membicarakan tentang resiko kehidupan maka secara langsung kita hubungkan dengan asuransi. Karena dalam presentasinya seorang agen asuransi selalu bicara tentang resiko kehidupan yang dilimpahkan kepada perusahaan asuransi. Jadi seorang Pemegang Polis membayar sejumlah premi yang ditetapkan oleh Perusahaan Asuransi dengan mendapatkan sejumlah Uang Pertanggungan. Jadi dengan adanya Polis, maka merupakan perjanjian antara Pemegang Polis sebagai Tertanggung dengan Perusahaan Asuransi sebagai Penanggung. Di awal lahirnya asuransi, produk sejenis Term yang merupakan cikal bakal produk yang dimiliki nasabah. Selanjutnya produk whole life dan endowment yang sempat menjadi produk andalan hingga penghujung tahun 2000. Namun saat ini pilihan produk sebagian besar sudah mengarah ke unit link. Dimana nasabah disamping memiliki proteksi asuransi, juga berkesempatan melakukan investasi secara bersamaan. Nasabah bisa memilih jenis investasi yang sesuai dengan profil resikonya. Tentunya semakin mengharapkan hasil investasi yang tinggi maka seiring dengan itu resiko juga semakin tinggi. Falsafah High Risk High Return harus dimengerti oleh nasabah. Perusahaan asuransi pun berlomba lomba membuat produk unit link dengan berbagai jenis. Bila produk yang dijual pada masa lalu dengan jenis endowment, nasabah mendapat kepastian jumlah manfaat sesuai waktu yang ditetapkan. Namun resiko akan hasil investasi yang dijanjikan merupakan resiko perusahaan asuransi. Dilematis dirasakan oleh aktuaria, sebagai pembuat produk. Karena bila manfaat yang diterima oleh nasabah dalam kurun waktu tertentu hasilnya tidak menarik tentunya produk tersebut akan kurang diminati oleh masyarakat. Jadi tiap perusahaan berusaha membuat produk semenarik mungkin, yang memberikan manfaat yang lebih baik dibandingkan pesaing. Namun tantangannya adalah bila kondisi ekonomi yang tidak stabil, membuat hasil investasi yang tidak menentu, membuat prediksi yang dihitung oleh akturia bisa melesat tidak sesuai dengan kenyataannya. Dalam hal ini perusahaan asuransi bisa menderita kerugian. Dan ujungnya bisa menutup produk ini, dan nasabah diarahkan untuk mengkonversi dengan produk baru yang diolah sedemikian rupa supaya kerugian perusahaan tidak semakin panjang.
Dengan adanya produk unit link, perusahaan bisa bernafas lega. Karena resiko hasil investasi ada di tangan nasabah. Perusahaan asuransi hanya mencari Manager Investasi (Fund Manager) yang sekiranya mempunyai kinerja yang baik, dan meletakkan dana investasi tersebut ke Bank Kustodian terpercaya. Dari kondisi itu perusahaan asuransi mengutip biaya dari nasabahnya. Mulai biaya asuransi, biaya pemeliharaan , biaya top up, dan sejumlah biaya lainnya. Jadi fungsi akturia jadi lebih sederhana dalam mendesain produk. Mereka hanya memperhitungan angka mortalita, atau rasio angka kematian dibanding usia, serta resiko bilangan besar, rasio klaim dibanding jumlah nasabah.
Namun dengan kondisi ini, terjadi sesuatu yang cukup ironis.
Apa maksudnya?
Pada dasarnya seorang membeli produk asuransi adalah melimpahkan resiko yang mungkin terjadi pada perusahaan asuransi. Namun membeli produk unit link, nasabah mempunyai resiko akan hasil investasi. Produk unit link yang dijual banyak perusahaan mempunyai banyak kesamaan. Dalam kurun waktu sepanjang mereka mempunyai kewajiban 'pembayaran' atau penabungan premi, sebenarnya komposisi terbesar dalam akunnya, adalah porsi investasi. Karena bila masa akuisisi berakhir, setiap premi yang ditabungkan atau 'dibayarkan' seluruhnya merupakan investasi. Namun justru investasi yang dimiliki sama sekali tidak ada yang melindungi. Dibiarkan begitu saja mengalir, dan tergantung pada banyak situasi. Memang idealnya ketika membeli produk seakan akan investasi nasabah 'dijaga' oleh agen yang label pada kartu namanya sebagai Financial Consultant. Sehingga pada kondisi tertentu mampu memberikan saran untuk melakukan tindakan penyelamatan pada dana nasabah bila situasi pasar yang tidak menguntungkan. Seorang Financial Consultant bisa memberi saran dan meminta persetujuan nasabah dengan memberi form untuk melakukan switching. Memindah dana dari alokasi dana yang mengandung resiko ke alokasi dana yang relatif lebih aman. Misalnya saat kondisi normal, dana nasabah berada pada lokasi pasar saham, atau dikenal dengan equity fund. Karena equity fund adalah primadona alokasi dana yang mampu memberi return yang tinggi, yang berlipat lipat dibanding hasil bunga deposito. Dan dalam kondisi pasar saham yang anjlok, dana nasabah bisa di switching ke alokasi pasar uang atau money market. Namun seperti kita sadari bahwa seorang agen yang bagus pasti memiliki banyak nasabah. Bisa puluhan bahkan banyak yang mempunyai ratusan nasabah yang harus dihandle. Menurut Anda apakah mereka mempunyai waktu yang cukup untuk memberi perhatian secara khusus pada masing masing nasabahnya? Kalaupun mereka mau melakukan kadang harga NAV turunnya seperti terjung payung. Belum sempat dilakukan harga sudah meluncur. Akibatnya dana nasabah mengalami penyusutan secara drastis. Nasabah yang mengerti akan resiko, biasa diam sambil merenungi nasib. Sebaliknya nasabah yang tidak mengerti, cenderung menyalahkan agen atau perusahaan. Sumpah serapah akan membahana di kala seperti itu.

 

Dalam kondisi ini tidak sedikit agen yang trauma akibat kemarahan nasabah. Banyak agen agen yang akhirnya memutuskan keluar dari profesi mulia ini, karena punya perasaan bersalah. Akibat banyak nasabah ynag mengalami kerugian. Ditambah dengan paniknya situasi, dan nasehat para tetangga atau penasehat dadakan yang menganjurkan agar dananya segera diambil untuk menghidari kerugian yang semakin besar. Maka aksi cut loss banyak terjadi. Dan peluang untuk menunggu momentum untuk recovery harga sudah pupus. Mereka banyak yang memutuskan untuk menerima kerugian. Korban berjatuhan, baik dari sisi nasabah maupun dari mental para agen.
Jadi sekalipun unit link adalah produk asuransi yang paling modern, namum masih menyisakan problem, dimana nasabah yang harus melimpahkan resiko keuangannnya, malah dihadapkan pada sebuah resiko akan hilangnya modal yang ditanamkan, atau hilang sebuah cita cita akan masa depan pendidikan anak, bahkan sebuah kehidupan yang layak di hari tua. Krisis ekonomi datang nya selalu tiba tiba seperti masuknya pencuri pada malam hari yang tidak pernah permisi pada penghuninya.
Inilah bagi saya sebuah ketidak adilan. Karena harusnya polis merupakan sebuah kepastian tentang sebuah pelimpahan resiko keuangan keluarga, namun unit link justru memberi peluang ketidak pastian akan dana yang harusnya mempunyai tujuan yang jelas penggunaanya. Ini sebuah fenomena produk yang dijual oleh banyak perusahaan asuransi melalui para agen yang tersebar dengan ragam presentasi yang membuai, dengan memberikan rata rata hasil kinerja Manager Investasinya, tanpa sedikitpun membahas tentang resiko yang bakal terjadi. Kejatuhan harga NAV saat krisis selalu disikapi oleh kebanyakan agen dengan sikap optimis, seakan memberi harapan bahwa harga NAV akan kembali normal pada waktu mendatang. Masalahnya bila dana itu dibutuhkan oleh nasabah pada saat itu, tentunya memberi problem keuangan baru bagi keluarga tersebut. Sering agen juga menyarankan nasabah melakukan top up atau menyetor sejumlah dana lagi, dengan tujuan agar mendapat harga rata rata. Untuk mengurangi ketugian, dengan membeli NAV harga yang lagi dibawah. Persoalannya apakah saat itu nasabah memliki dana yang cukup? Ataukah memberi resiko tambahan bila ternyata harga NAV yang dibeli bukanlah harga terbawah, karena tidak satupun orang bisa memprediksi mana yang disebut harga termurah.

 

Dunia unit link sekarang bersinar lagi dengan memberi sebuah harapan baru tentang apa arti sebuah investasi dengan rem penjaga. Generali Indonesia dengan produk unit link yang mempunyai fitur ARMS (Automatic Risk Management System). Sebuah fitur yang memberi keamanan sebuah investasi. Membatasi kerugian dan memberi peluang keuntungan tanpa batas. Namun sayangnya kehadiran ARMS yang harusnya disambut dengan sebuah harapan baru bagi industri asuransi unit link, namun masih banyak sejumlah praktisi kompetitor yang justru melihat dengan sudut pandang mencari kelemahan ARMS. Bahkan memberi sebuah simulasi kondisi 'istimewa' yang seakan akan ARMS malah membuat nasabah kehilangan peluang untuk mereguk keuntungan. Mereka mengabaikan tujuan ARMS diciptakan adalah membata si kerugian nasabah, agar bila nasabah mempunyai kepentingan atas dana tersebut, pada saat dibutuhkan dana tersebut tetap terjaga pada resiko tertentu. Bagi saya ARMS ibarat airbag pada mobil, yang manfaatnya tidak pernah dirasakan pada kondisi yang normal. Airbag baru terasa berguna menyelamatkan nyawa ketika mobil mengalami celaka dengan benturan hebat yang memungkinkan penumpang mobil kehilangan nyawa. Bahkan dalam situasi canda tawa, saya pernah berandai andai, bila satu waktu krisis ekonomi melanda, yang mengakibatkan anjloknya harga saham, maka saat itulah nasabah yang memiliki polis lebih dari satu dari banyak perusahaan yang menjual unit link, dan salah satu polisnya adalah Generali. Dan saat itulah nasabah baru merasakan mana polis yang paling aman, yang mampu menjaga dan membatasi kerugian. Sementara polis yang lain dibiarkan terjun bebas, atau menunggu proses switching manual yang membutuhkan waktu dalam tindakan prosesnya. Dan saat itu akan terjawab apa pentingnya ARMS.
APAKAH KITA TETAP BERHARAP AGAR KRISIS EKONOMI TERJADI, HANYA UNTUK MEMBUKTIKAN PENTINGNYA ARMS ?? (HC) This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

 

 

 

 

Headquarters Visitors (Sejak 10 April 2013)

1706047