New Article Released  " DAFTAR NAMA VERSUS KANVASING "

BEDA APLIKASI TAPI SALING BONCENG
 

Test1234

Test 1234

Live Chat

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Event Calendar

Last month May 2018 Next month
M T W T F S S
week 18 1 2 3 4 5 6
week 19 7 8 9 10 11 12 13
week 20 14 15 16 17 18 19 20
week 21 21 22 23 24 25 26 27
week 22 28 29 30 31
 

AKHIR SEBUAH PENANTIAN

 

akhir penantianBiasa di kuartal pertama setiap tahun, ada hal yang ditunggu pelaku pasar industri Life Insurance di Indonesia. Seakan menjadi sebuah ritual, menantikan publikasi Laporan Keuangan dari masing masing perusahaan. Baik perusahaan yang menjadi tumpuan bisnis, ataupun dari perusahaan lain yang dianggap sebagai kompetitor. Di dalam Laporan Keuangan sebenarnya banyak faktor yang menjadi parameter sebuah perusahaan dikatakan sehat atau tidak. Namun pelaku pasar khususnya Agen - Agen penjual hanya melihat secara singkat sebuah data yang biasa ada di bagian kanan bawah. Kondisi perusahaan Untung atau Rugi !!!

Data keuntungan dan kerugian dibutuhkan oleh sebagian besar pelaku pasar, bukan digunakan untuk bahan analisa. Namun lebih banyak digunakan untuk melakukan promosi bagi perusahaan tempatnya bernaung bila sudah masuk kategori untung.  Sebaliknya juga digunakan untuk black campaign untuk perusahaan kompetitor yang masih rugi. Melalui media social atau broadcast chat yang membuat daftar perusahaan rugi. Sekalipun hal ini bukanlah satu satunya parameter sebuah perusahaan sehat atau sakit, namun kadang bias digunakan sebagai ajang mempengaruhi nasabah yang akan membeli polis pada perusahaan tertentu. Tentu saja situasi ini bias mengganggu penjualan seorang Agen. Pernah ada kejadian, seorang Agen sudah mendapatkan persetujuan dari nasabah. Semua dokumen sudah lengkap. Hanya tinggal membayar premi pertama. Dan nasabah menerima broadcast serupa, yang menyatakan perusahaan dalam posisi masih rugi. Ujungnya nasabah membatalkan tranfernya. Sekalipun Agen penjual bersama Leadernya mendatangi nasabah untuk menjelaskan situasinya. Namun nasabah tetap membatalkan. Broadcast yang memakan korban. Agen bisa down, dan untung bukan Anda.

Awal minggu ini, Managemen Generali Indonesia mempublikasikan Laporan Keuangan di media Nasional. Namun beda kali ini adalah untuk pertama kalinya pada laporan tersebut menyatakan Generali Indonesia telah meraih keuntungan. Ya untuk pertama kalinya, sejak berdiri 9 tahun yang lalu. Kabar bahagia ini tentu saja membuat gembira para Agen – Agen penjual. Karena sejak 2012, se tahun sejak berdiri nya jalur distribusi Agency, tidak bosan bosan nya pelaku pasar competitor melakukan pemberitaan atau daftar perusahaan yang masih mengalami kerugian. Karena saat lahirnya distribusi Agency di tahun 2011, Generali cukup mengagetkan pelaku pasar dari perusahaan kompetitor. Generali melejit sangat agresif. Kampanye perusahaan rugi tentu saja membuat Agen – Agen penjual Generali pada kurun waktu itu disibukkan untuk belajar menjawab dan meyakinkan nasabah tentang issue kerugian perusahaan. Para Leader lebih banyak mengadakan kelas khusus untuk membahas topik yang sama setiap tahun. Bulan April Mei Juni berita kerugian dilaporan keuangan selalu menjadi topic rutin sekian tahun yang lalu. Sekalipun pada bulan – bulan sesudah itu, topic itu mereda dengan sendirinya, hehe…. Karena memang data kerugian dilaporan keuangan bukanlah cerminan mutlak sebuah perusahaan yang sehat.

Dan tahun ini merupakan tahun pertama hal rutin tiap tahun dipastikan tidak ada. Sebuah penantian yang melegakan. Ini merupakan sebuah prestasi bagus bagi managemen Generali Indonesia. Karena pada umumnya, sebuah perusahaan Life Insurance yang memiliki jalur disribusi Agency akan sulit bisa menuai keuntungan dalam kurun waktu 10 tahun. Karena seperti kita tahu, biaya distribusi Agency sangat mahal. Karena boleh dikatakan premi yang diterima pada tahun pertama dan kedua, semua merupakan biaya distribusi. Bisa dibayangkan premi yang diterima perusahaan pada tahun pertama, digunakan untuk biaya komisi dasar, bonus, kontes, trip,dan biaya support lainnya. Dan menariknya, semakin Agency bertumbuh secara signifikan maka keuntungan akan semakin lama dicapai. Namun bila kondisi ini yang terjadi, kerugian yang ada bukanlah merupakan indikator yang berbahaya. Layaknya kolesterol, ada kolesterol jahat, namun ada kolesterol baik… wkwkwkwk…. Kolesterol baik tidak akan menyebabkan stroke, bahkan membuat netral trigliserida… ( yang belumjelas, googling aja untuk tahu kolesterol baik…) Perolehan keuntungan perusahaan tentu saja tidak luput dari kejelian managemen dengan meningkatkan jalur distribusi yang lain. Seperti jalur group corporate dan bancassurance. Jalur distribusi lain memang lebih sederhana dalam operasinya. Namun sebuah perusahaan Life Insurance nadi keuntungan jangka panjang berada pada jalur distribusi Agency. Mereka merupakan anak kandung bisnis bagi perusahaan. Karena para Mitranya berbisnis dan menjalankannya secara jangka panjang. Mereka menggurita karena pertimbangan bisnis. Bahkan dengan perencanaan bisnis yang bias diwariskan. Beda dengan bisnis grup corporate yang kontrak kerjanya dalam hitungan setiap tahun. Klien bias mengganti dengan perusahaan lain. Yang dirasa lebih kompetitif. Demikian juga dengan jalur distribusi bancass, bank partnership bias menghentikan kerja sama nya bila terjadi perubahan kebijaksaan yang dilakukan Direksi terbaru. Namun jalur Agency secara umum akan semakin kokoh dari waktu ke waktu. Jadi sangat wajar, bila di awal biaya tinggi namun akan memberikan keuntungan jangka panjang pada perusahaan.

Menilik cukup panjangnya sebuah perusahaan Life Insurance untuk meraih laba, ini yang membuat perusahaan asli Indonesia akan sulit bersaing dengan perusahaan join venture. Karena pemilik saham tentunya selalu menunggu laba dari perusahaan yang dimilikinya. Dan pada umumnya kesabaran itu tidak dimiliki oleh investor lokal. Apalagi pada umumnya mereka sebelumnya atau saat yang sama memiliki perusahaan lain di luar perusahaan Life Insurance, dan dalam waktu singkat sudah bias menikmati keuntungan. Sedangkan perusahaan join venture malah sudah memiliki jaringan perusahaan sejenis di banyak negara lain, yang sudah menikmati keuntungan di banyak negara Regional. Sehingga mereka bias melakukan subsidi silang dalam melakukan strategi bisnisnya.Kita bias melihat bagaimana perusahaan local malah tergusur oleh perusahaan asing. Hanya tinggal hitungan jari perusahaan asli Indonesia yang bias berkembang di Negara sendiri. Padahal dari segi potensi, bisnis Life Insurance di Indonesia sangat menjanjikan. Dibuktikan banyaknya perusahaan asing sudah menancapkan benderanya di Negara kita.

Akhirnya, satu situasi sudah terlewatkan dengan baik. Namun tantangan kedepan bukan tidak ada. Sejumlah hal lain akan menanti seiring dengan iklim kompetisi yang makin ketat. Pesan yang bias dijadikan pelajaran, bahwa sekian waktu kita bias merasa terganggu akibat ulah Agen – Agen competitor melakukan kampanye data untung rugi sebuah perusahaan Life Insurance, hal ini sangat tidak patut kita contoh, yang saat ini perusahaan tempat kita bernaung sudah menengguk laba tidak perlu melakukan kampanye serupa. Berkampanyelah secara sehat, bahwa perusahaan sudah meraih laba, tanpa harus memblow up perusahaan kompetitor yang masih rugi. Semakin dewasa dalam berwawasan maka akan bijaksana dalam bersikap. Bagaimana menurut Anda ? (HC) This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

 

 

Headquarters Visitors (Sejak 10 April 2013)

1500033