New Article Released  " DAFTAR NAMA VERSUS KANVASING "

BEDA APLIKASI TAPI SALING BONCENG
 

Test1234

Test 1234

Live Chat

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Event Calendar

Last month June 2018 Next month
M T W T F S S
week 22 1 2 3
week 23 4 5 6 7 8 9 10
week 24 11 12 13 14 15 16 17
week 25 18 19 20 21 22 23 24
week 26 25 26 27 28 29 30
 

BENARKAH BISNIS LIFE INSURANCE TANPA MODAL?

 

insuransi

Dalam setiap kesempatan dalam mengajak teman atau orang lain  untuk berbisnis di industri life insurance, sering menggunakan kata tanpa modal. Padahal untuk mendaftar menjadi seorang Agen life insurance merupakan keharusan untuk membayar uang ujian AAJI. Saat ini 225 ribu rupiah. Uang ini bukan dibayarkan ke perusahaan asuransinya. Namun dibayarkan ke AAJI (Asosiasi Agen Asuransi Jiwa Indonesia). Karena ini merupakan keharusan, bahwa setiap agen harus lulus ujian yang berkaitan dengan 'restu' menerima dana masyarakat. Sehingga mempunyai dasar untuk menjelaskan dengan benar sehubungan dengan uang yang dibayarkan oleh nasabahnya.

Jadi keluar modal dong....

 

Sehingga banyak calon agen yang merasa terjebak. Mereka beranggapan yang dinamakan tanpa modal berarti benar benar tidak mengeluarkan uang sepeserpun juga. Bahkan mungkin berangkat kerjapun diantar jemput sehingga tidak keluar biaya transpor hahaha.... Pemahaman ini yang perlu diluruskan. Sehingga masing masing tidak salah persepsi, apalagi salah paham.

 

Sebenarnya tidak salah juga bila mengatakan bisnis ini tanpa modal. Karena uang ujian AAJI sebenarnya tidak diperhitungkan layaknya sebuah modal. Tanpa bermaksud mengecilkan arti uang 225 ribu, namun nilainya belum bisa dikatakan sebagai sebuah modal usaha. Kecuali dalam pemikiran awam, profesi agen asuransi dianggap mencari pekerjaan. Padahal yang ditawarkan di sini sebagai bisnis. Bersifat wirausaha. Bukan sebagai karyawan.

 (Baca artikel: RAGAM SISTEM DI BISNIS ASURANSI, MAU PILIH YANG MANA?)

 

Karena pemahaman ini akan sangat berbeda. Bila dalam pemikiran mencari pekerjaan, tentunya akan menjadi hal yang aneh, mencari kerja koq harus bayar. Malah ikut trainingpun sudah dibayar, setidaknya diberi uang transpor dan uang makan.

Bila pemikiran membangun bisnis, dan mempunyai potensi bisnis dengan hasil puluhan atau ratusan juta per bulan, tentunya angka tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai modal.

 

Dalam banyak kesempatan sering saya membandingkan bisnis ini dengan bisnis atau pekerjaan lain yang sifatnya bukan karyawan.

Yang dalam memperoleh penghasilannya bukan karena gaji. Tapi benar benar yang diterima dari hasil kerjanya. Jadi tergantung pada kemampuan diri sendiri. Semakin kerja keras, semakin cerdas, akan semakin banyak penghasilannya.

 

Pernahkah berpikir berapa modal pengemudi taxi argometer. Status mereka juga bukan karyawan. Mereka pekerja komisi dan bonus. Mereka bekerja dengan fisiknya. Mereka bekerja bukan pasif menunggu order, tapi mereka harus berpikir, agar tidak terlalu banyak berkeliling tanpa mendapat penumpang. Karena mereka harus membeli bensin sendiri. Mereka harus punya strategi, pada jam jam tertentu harus berada di daerah mana. Kadang harus berangkat subuh. Berangkat lebih awal dengan bersaing dengan sesama pemgemudi, untuk mendapat order awal mengantar penumpang ke airport. Karena bagi mereka bila di pagi hari mendapat penumpang ke airport, maka mereka sudah menang di awal hari. Pada umumnya argometer ke airport di kisaran 100 ribuan. Mereka curi start setiap hari. Agar pengahasilan awal pagi hari sudah 30 % dari total target sehari. Mereka berpacu dengan waktu. Berhentipun harus berpikir, dimana lokasi terbaik, yang memungkinkan mendapat penumpang lagi.

Sekarang....menurut Anda berapa potensi penghasilannya? Yang benar benar bekerja maksimal dan bekerja cerdas, penghasilan mereka di kisaran 5 - 6 juta per bulan. Dan, berapa modal mereka?

Tanpa modal? ....tidak!

Mereka perlu SIM (minimal) A Umum. Dan biayanya tidak kurang dari 500 ribu.

 

Bagaimana dengan penjual nasi goreng gerobak, yang harus menjajakan jualannya keliling dari rumah ke rumah. Berapa potensi income nya?

Ketika saya membeli, saya gunakan juga untuk bertanya kepada penjualnya. Potensi income dia maksimal adalah sebanyak 'besek' (tempat nasi) yang berada dalam gerobak. Sebanyak 6 kg beras yang sudah menjadi nasi. Untuk memperbanyak nasi yang dibawa harus membawa gerobak yang lebih besar. Otomatis lebih berat dalam mendorongnya. Yang normal bisa memuat 6 kg nasi. Jam kerja mereka berangkat sekitar jam 17 dan pulang bila sudah habis, atau sudah lewat jam 01 dini hari. Dan bila habis semua menghasilkan 60 porsi. Harga per porsi 12 ribu. Maka omset per harinya maksimal 720 ribu. Anggap saja keuntungan bersihnya 50% maka penghasilan per hari 360 ribu. Bila dia bekerja penuh selama sebulan 30 hari, maka 10,8 juta per bulan. Ok ya!

Itu adalah hasil maksimal. Bila potensinya dengan segala resiko, tidak selalu habis tiap malam, dan tidak bekerja penuh selama sebulan, mungkin kisaran 6 juta akan jadi rasional. Setuju?

Sekarang kira kira berapa modalnya? Jangan hanya menghitung modal bahan bahan makanan, beras, bumbu masak, kecap botol, sayur, minyak, dll. Namum modal awalnya adalah berapa harga gerobaknya? Apakah bisa didapat dengan harga 3 juta rupiah. Sekalipun mungkin harga bekas. Dengan potensi income di kisaran 6 juta per bulan, jutaan rupiah modalnya!!

 

Ketika saya mendarat di salah satu airport di Jawa Tengah, dan saya memanggil porter bandara untuk membantu saya mengambil bagasi. Di saat menunggu bagasi turun, saya sempat menanyakan tentang pekerjaan dia. Yang cukup mengejutkan saya, ketika dia mengatakan bahwa dia tiap hari harus membayar kehadirannya. Artinya dia seperti 'menyewa' lahan. Dengan membayar uang tertentu, dia berhak memakai baju seragam porter resmi bandara. Dan penumpang bisa menggunakan jasanya untuk membantu mengambil dan mengangkat barang bagasi.

Membayar! Bukan dibayar per bulan. Dan mereka bekerja bukan berdasarkan kerja keras. Namun berdasarkan urutan kerja dengan teman teman porter yang lain. Kalau mereka tidak membayar, maka kesempatan menjadi porter akan diambil oleh orang lain yang sudah mengantri. Dan hampir semua porter sudah bekerja puluhan tahun! Tiap hari untuk memperoleh penghasilan harus keluar modal dulu.

 

Kalau membahas hal di atas, sama sekali tidak bermaksud membandingkan profesi Agen life insurance dengan pengemudi taxi, penjual nasi goreng, ataupun porter. Saya hanya memberi gambaran, bahwa profesi profesi itu membutuhkan pola pikir sebagai wiraswasta. Karena mereka berani mengeluarkan modal tertentu dengan resiko yang bisa diukur oleh mereka. Dengan pertimbangan kemampuan mereka masing masing. Karena kalau sempat bertanya, kepada pengemudi taxi latar belakang pendidikan mereka, tidak sedikit atau boleh dikatakan cukup banyak yang berpendidikan S1. Dengan dalih tidak bisa bersaing dengan ijasah S1 mereka, dan memilih untuk menjadi pengemudi taxi. Dan penghasilan mereka justru lebih banyak daripada penghasilan S1 rata rata yang menjadi karyawan biasa.

Dan bila Anda bandingkan penjual nasi goreng yang mungkin hanya lulusan SMA, dan punya kemampuan memasak yang diajarkan oleh keluarganya, namun juga punya penghasilan di atas karyawan biasa dengan latar belakang pendidikan S1. Sekalipun kadang profesi mereka tidak memperoleh kebanggaan di lingkungan sosial mereka.

 

Dalam situasi yang lain, saya mendapat cerita dari teman, yang mempunyai kerabat membuka bisnis makanan warung tenda kaki lima. Mendapat tempat sewa di lokasi yang cukup strategis. Mengeluarkan modal sekitar 30 juta, yang setengahnya diperoleh dari pinjaman keluarga. Modal digunakan untuk membuat konstruksi pipa yang bisa bongkar pasang. Dan meja kursi yang dibeli bekas dari online.

Namun dirasakan, ketika hingga sebulan awal tidak memberi hasil seperti yang diharapkan. Padahal menurut perhitungannya, dengan menu yang dimiliki serta harga yang kompetitif akan bisa meraih keuntungan dalam waktu singkat.

Menurut Anda, apakah yang harus dilakukan?

Mending ditutup saja, daripada semakin lama akan semakin rugi yang lebih dalam. Mengingat bisnis makanan persaingan sangat sengit.

Atau mencari ide ide agar warung tenda bisa ramai dan menarik pengunjung?

Jarang ada yang mengambil pilihan pertama, karena argumentasi mereka karena modal yang dikeluarkan besar. Toh masih 1 bulan. Karena dengan mengambil keputusan menutup warung, maka sudah dipastikan modal tidak akan kembali. Malah masih punya kewajiban mengembalikan hutang pinjaman dari keluarga.

Pemilik warung akan berjuang, mencari cara cara baru, mungkin kalau terpaksa harus mengganti menu yang ada, yang mungkin bisa lebih digemari. Atau harus mencari bentuk iklan sehingga orang lebih mengenal warung mereka.

Intinya MEREKA TERUS BERJUANG !! Karena mereka tidak mau konyol kehilangan modal yang cukup berarti dalam kurun waktu yang singkat. Lain cerita bila kondisi berlanjut hingga 6 bulan ke depan. Kalaupun mereka harus menutup, mereka akan lebih legowo karena sudah berjuang sampai akhir (istilah lebaynya berjuang hingga titik darah terakhir....hikz...hikz...)

 

Berkaca dengan kejadian di atas, mengapa banyak Agen life insurance yang 'muntaber' - mundur tanpa berita - bila belum mendapat hasil komisi 1 bulan lewat? Atau 'hipertensi' - hilang pergi tanpa permisi bila dirasa belum ada tanda tanda keberhasilan dalam bulan pertama?

 

Jawabannya, karena mereka tidak mengeluarkan modal!

 

Mereka hanya mengeluarkan

biaya ujian AAJI yang tidak seberapa.

Tidak ada kerugian yang patut diperjuangkan.

Mereka lebih mudah meninggalkan bisnis,

karena tidak berjuang

mengembalikan modal 225 ribu rupiah.

Mereka rela itu hilang.

Mereka tidak perlu berpikir untuk mencari cara cara lain. Mencari prospek dari lingkungan yang berbeda.

Mereka tidak berusaha belajar

dari orang orang yang lebih dahulu sukses.

Mereka dengan gampangnya menyerah.

 

Oleh karena itu, sering saya utarakan di saat serius atau santai, saya lebih menyukai bila biaya ujian, atau biaya apapun dibuat lebih mahal, mungkin harus 1 atau 2 juta hahaha...

Sehingga mereka tidak akan mudah menyerah, atau tidak mau dengan gampang kehilangan 'uang masuk' mereka. Mereka akan lebih berjuang. Karena bila mereka sudah memutuskan pilihan bergabung, pasti mereka sudah melihat potensi penghasilannya. Dan mengukur kemampuan dirinya. Sehingga harusnya tidak gampang meninggalkan bisnis ini dengan tanpa perjuangan. Atau melakukan bisnis dengan setengah hati.

 

Oleh karena itu merupakan sebuah 'kebodohan' dari teman seprofesi bila membayarkan biaya ujian AAJI ke agen baru, sekalipun dengan dalih apapun. Karena membayarkan sebenarnya bukan berarti kita melakukan tindakan kasih, namun akibatnya malah membuat orang tidak melakukan tanggung jawabnya. Saya sering membiarkan seseorang yang tertarik terhadap bisnis ini, dan mengaku tidak punya uang untuk bergabung. Bukan karena saya pelit atau kejam. Namun saya biarkan bara api dalam dirinya berkobar. Dengan bara api itu dia akan mencari jalan untuk memperolehnya. Banyak situasi mereka harus meminjam kepada keluarga, atau temannya. Dan ketika mereka memutuskan hal itu, mereka akan berjuang, belajar dan akhirnya berhasil.

 

Sebaliknya...ketika sepertinya kita baik hati membayarkan uang ujian itu, kebanyakan atau hampir semua tidak berjuang untuk berhasil. Mereka justru kadang berpikir, kita membayarkan karena kita berharap memperoleh keuntungan dari kerja mereka.

Sekali lagi, ini bukan sebuah doktrin, namun berbagi pengalaman. Karena bagaimanapun maksud baik membayarkan adalah kepekaan kita akan suara hati yang dasarnya membantu orang lain. Bagaimana menurut pendapat Anda? (HC) This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

 

 

 

Headquarters Visitors (Sejak 10 April 2013)

1559376