New Article Released  " INDONESIA LUAR BIASA "

BEDA APLIKASI TAPI SALING BONCENG
 

Test1234

Test 1234

Live Chat

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Event Calendar

Last month September 2018 Next month
M T W T F S S
week 35 1 2
week 36 3 4 5 6 7 8 9
week 37 10 11 12 13 14 15 16
week 38 17 18 19 20 21 22 23
week 39 24 25 26 27 28 29 30
 

MANIS DI DEPAN PAHIT DI BELAKANG

 

swanny

Tidak terasa waktu berlalu demikian cepat, saat sebuah pertemuan di kota Semarang di penghujung 2011, yang mempertemukan saya dengan sekelompok teman teman baru. Tujuan awalnya tentu saja saya ingin membangun team di Semarang, untuk sebuah company yang relatif baru, dan belum dikenal oleh masyarakat. GENERALI INDONESIA.

 

Dari sekelompok teman teman baru yang mempunyai latar belakang pekerjaan ber beda beda. Dan seperti kebanyakan orang, ketika mengenalkan bisnis life insurance, dihindari adalah hal yang biasa. Sikap skeptis dari orang orang yang mendengarnya sudah merupakan hal makanan se hari hari. Dan salah sesorang dari sekelompok orang tersebut, lahirlah seorang yang bisa membuktikan, bahwa industri life insurance mampu membuat orang from zero to hero, mengubah cara berpikirnya, dari sebuah profesi yang sepertinya tidak membanggakan, menjadi profesi yang memberi nilai nilai hidup....

Swanny Gandakusuma, berbagi kepada kita semua...

MANIS DI DEPAN PAHIT DI BELAKANG

Kalimat di atas sering dilontarkan oleh calon nasabah kepada agen asuransi yang sedang memprospeknya. Namun, benarkah demikian?

Selesai menjalani rawat inap dan dokter mengijinkan untuk pulang, saya bergegas menuju ruang administrasi rumah sakit.

Disana saya bertemu dengan seorang bapak yang juga sedang mengurus kepulangan istrinya.

Bapak yang duduk di sebelah saya  ini mengeluarkan beberapa bendel uang tunai dari sebuah kantong plastik hitam dan diberikan kepada petugas administrasi dihadapannya.

 

Awalnya kami hanya basa basi saja, namun akhirnya beliau cerita panjang lebar tentang penyakitkanker yang sudah hampir 3 tahun diderita istrinya dan yang sudah menghabiskan biaya sangat besar.

 

Bapak ini ternyata baru saja menjual tanahnya, dan uang dalam kantong plastik hitam itulah hasil penjualan tanah terakhir yang dia miliki.

“Apakah ibu sama sekali tidak punya asuransi, pak?” tanya saya, dan dia balik bertanya, “Apakah masih ada asuransi yang mau menerima istri saya?”

 

Saya termenung dan teringat 11 tahun yang lalu, ketika pertanyaan yang sama saya lontarkan kepada suster yang merawat ayah saya selama 1,5 bulan di ICU.

Tiap dua minggu sekali, saya diminta “mampir” ke ruang administrasi rumah sakit untuk menambah deposit. Bila kami tidak “mampir”, maka beberapa obat yang mahal akan dihentikan dan itu mengakibatkan badan ayah saya bengkak bengkak.

“Kami punya tagihan-tagihan pasien yang sampai hari ini tidak terselesaikan karena pasien/ keluarganya tidak mampu bayar. Oleh karena itu pihak RS memang kemudian menetapkan aturan wajib deposit untuk pasien non asuransi, karena makin besarnya akumulasi tagihan tak terbayarkan di RS ini, bu” jelas Direktur RS yang saya temui saat itu.

Pahit sekali melihat kenyataan yang ada, yang sampai hari inipun masih banyak kita jumpai di sekitar kita termasuk yang menimpa bapak di sebelah saya ini.

“Ini kartunya, bu, Generali sudah membayar semua tagihan ibu di RS ini” petugas di hadapan saya menyerahkan kartu saya sekaligus menghentikan lamunan saya.

Saya bersyukur ada perusahaan yang merancang kartu yang saya pegang ini dengan semua kemudahannya, sehingga hari itu saya bisa keluar dari RS tanpa mengalami kepahitan seperti Ayah saya atau bapak di sebelah saya ini.

Dari pengalaman saya ini, rasanya judul di atas sudah tidak berlaku lagi bukan?  (HC) This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

 

 

 

Headquarters Visitors (Sejak 10 April 2013)

1614493