New Article Released  " DAFTAR NAMA VERSUS KANVASING "

BEDA APLIKASI TAPI SALING BONCENG
 

Test1234

Test 1234

Live Chat

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Event Calendar

Last month June 2018 Next month
M T W T F S S
week 22 1 2 3
week 23 4 5 6 7 8 9 10
week 24 11 12 13 14 15 16 17
week 25 18 19 20 21 22 23 24
week 26 25 26 27 28 29 30
 

TAKUT PROSPEK? KARENA PERUSAHAAN MASIH RUGI

 

jangan takutDi setiap pertengahan tahun, majalah majalah tentang keuangan selalu membuat rating tentang institusi keuangan, termasuk perusahaan asuransi. Bahkan mereka membuat ranking atau rating dengan predikat siapa yang terbaik, sedang, bahkan buruk. Tujuan dilakukan hal ini tentu saja agar masyarakat tahu dan bisa menilai sebuah institusi yang sehat atau tidak. Sekalipun saat ini regulasi institusi keuangan di Indonesia sangatlah ketat dengan regulasi yang dikeluarkan badan pengawas. Sebut saja OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Dan media membuat rating tersebut tentunya bukan mengada ada, tapi memang diambil dari data laporan keuangan tahunan yang dipublikasikan oleh masing masing perusahaan. Namun memang dengan sudut pandang para panelis, atau pengamat versi media tersebut. Tidak ada yang salah. Namun bisa memberi penilaian yang berbeda.

Menariknya, dengan berkembangnya media sosial, data yang dipublikasikan oleh media bisa menjadi ajang perang pelaku bisnis antar perusahaan. Perang di media sosial. Mulai BBM, FB, atau yang lain. Tentu saja yang dijadikan bahan adalah exploitasi rating dari mitra companynya. Apalagi mereka yang bernaung di company yang mempunyai rating bagus, bahkan terbaik. Namun mereka juga menampilkan urutan perusahaan yang mengalami kerugian. Dan data tersebut dikirimkan ke semua kontak yang berada di masing masing gadget mereka. Penerimanya sampai juga ke nasabah. Dan tentu saja menimbulkan dampak bagi calon nasabah dari company yang termasuk mengalami kerugian. Nasabah pada umumnya tidak mau resiko, sehingga berita seperti itu bisa mempengaruhi keputusan yang akan diambil. Sehingga ada yang menunda closingnya, atau bahkan membatalkan!

Dampak yang lebih panjang mengakibatkan teman teman agen baru atau pemula di perusahaan yang di blow up mengalami kerugian, menjadi takut melakukan prospekting. Bahkan karena pengetahuan yang terbatas, membuat tidak mampu menjelaskan ke nasabah dan calon nasabah.

 

Sehingga muncullah perlawanan dari pelaku bisnis yang merasa dirugikan dengan penyebaran berita tersebut. Dan timbullah reaksi penyebaran berita tandingan yang membandingkan data antara satu company dengan company yang lain. Di mana hal ini sangat menjadi tidak sehat, dan nasabah semakin dibuat bingung.

 

Perlu diketahui bahwa untuk menjalankan roda sebuah perusahaan life insurance diperlukan komitmen jangka panjang dari pemilik perusahaan. Karena tidak bisa mereguk untung dalam waktu sekejab. Karena pada tahun tahun awal bisa dipastikan perusahaan tidak menerima hasil apapun, bahkan pengeluaran lebih besar dari premi yang diterima. Kalaupun menjual produk jenis unit link dengan akuisisi tertentu, biaya akuisisi selalu habis digunakan untuk komisi agen dan leader, sesuai struktur dari sebuah pohon team penjualan. Belum lagi biaya operasional, gaji, dan bonus karyawan. Ditambah dengan biaya kontes, baik hadiah berupa barang, atau trip perjalanan. Semua itu masih ditambah dengan penyediaan dana cadangan teknis, dan pemenuhan prosentase Risk Base Capital (RBC) minimal yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai badan pengawas institusi keuangan di Indonesia.

Pada tahun ke 2, penerimaan premi lanjutan juga masih harus membayar kewajiban bonus dan komisi untuk para agen dan team penjualan. Namun biasanya sebagai perusahaan yang sehat, penerimaan premi bisnis baru akan meningkat dibanding pada tahun pertama berdiri. Tentu saja perusahaan harus menyuntik modal tambahan untuk berbagai biaya. Semakin melonjak penerimaan premi bisnis baru maka semakin perlu tambahan modal. Tentu saja semua ini akan tercatat dalam laporan keuangan sebagai kerugian. Premi lanjutan tahun ke 3 sedikit membuat lega, karena pembayaran komisi mengecil, asalkan angka persistensi dari penjualan menunjukkan angka yang cukup tinggi. Setidaknya di atas 80%.

Melihat pemaparan di atas, sudah bisa dibayangkan, semakin agresif perusahaan tersebut dalam perolehan premi, maka keuntungan yang didapat akan semakin lama. Itupun masih tergantung bagaimana efisiennya biaya operasional dari perusahaan tersebut. Juga berapa tinggi rasio klaimnya. Semakin longgar underwriting team dalam melakukan proses seleksi, maka semakin berisiko terhadap klaim. Padahal sebagai perusahaan baru, team sales pasti menginginkan regulasi company yang tidak terlalu ketat. Sehingga memudahkan mereka memperoleh nasabah.

Belum lagi, tuntutan team sales yang menginginkan perusahaan melakukan branding, baik melalui iklan media elektronik, maupun cetak. Kadang hal ini cukup menyulitkan dari sisi perusahaan. Karena penggunaan iklan yang tidak efektif seperti membuang uang di udara. Banyak perusahaan melakukan iklan besar besaran di media elektronik. Padahal jumlah agen masih terbatas. Sehingga kalaupun masyarakat tahu akan nama perusahaan tersebut, namun tidak ada agen yang menawarkan produknya kepada mereka.

Hal ini perlu kejelian dalam hal strategi branding. Yang tidak kalah penting, sebagai perusahaan baru, mereka harus menyewa ruangan kantor di daerah elite, atau lokasi bisnis strategis. Yang tentu saja membutuhkan biaya sewa yang relatif mahal. Demi penilaian bonafiditas. Dan interior kantor yang memberi cita rasa mahal dan berkelas.

 

Kalau melihat situasi di atas, maka wajarlah bila sebuah perusahaan asuransi baru bisa break event point pada kurun waktu 5 tahun ke atas. Bahkan kalau kita memperhatikan perusahaan perusahaan yang hari ini sangat solid, mereka baru bisa menerima keuntungan di atas tahun ke 10, bahkan ada yang di atas tahun ke 15.

Oleh karena itu, kalau kita ingat satu dekade yang lampau, begitu banyak perusahaan asuransi asing, yang di negara asalnya merupakan asuransi papan atas, namun harus meninggalkan negara kita, atau negara lain dimana mereka mengembangkan unit bisnisnya, harus cabut, atau menjual perusahaannya, karena tidak kuat menanggung kerugian yang semakin lama bisa semakin besar. Hal ini kadang akibat tidak efisiennya biaya operasi, atau tidak mempunyai team sales yang kuat.

Sekalipun perusahaan join venture tersebut harus meninggalkan Indonesia, dan perusahaannya diakuisisi oleh perusahaan lain, sehingga berganti nama, namun nasabah sama sekali tidak akan dirugikan. Karena perusahaan yang baru tetap akan mengakui hak nasabah sesuai polis yang dimilikinya. Wujud Polis masih bisa sama dengan yang lama, namun kewajiban dan hak nasabah kepada perusahaan yang baru. Oleh karena itu nasabah tidak perlu kuatir!! Yang mungkin menerima dampak adalah pelaku bisnisnya. Karena mereka harus menyesuaikan sistem dan kompensasi perusahaan yang baru.

 

Melihat pemaparan di atas, sebagai penjual tidak perlu ragu atau takut dengan laporan keuangan perusahaan yang masih mengalami kerugian, khususnya bila perusahaan itu baru berusia balita. Dan bisa lebih di analisa, apakah pertumbuhan premi meningkat dan kerugian yang makin mengecil.

Dan pengetahuan ini wajib dimiliki oleh seluruh pelaku bisnis atau insan industri asuransi, agar isue kerugian tidak digunakan untuk membuat kampanye hitam yang bisa memberi dampak negatif bagi nasabah dan agen company lain. Karena kalau kita semua bercermin, sekalipun saat ini Anda berada di company yang besar, cobalah melihat laporan keuangan perusahaan di tahun tahun awal. Maka Anda akan mendapati hal yang sama. Karena bagaimanapun sebuah perusahaan life insurance, akan melewati sebuah fase yang sama. Mengalami fase rugi dalam laporan keuangannya. Yang membedakan hanya waktu berapa lama saat BEP nya. Dengan mengerti jalannya sebuah perusahaan life insurance tentunya akan membuat dewasa pelaku bisnis untuk tidak melakukan jenis kampanye hitam, yang bisa merugikan sesama pebisnis di ladang yang sama.

 

Seorang Agen tentunya harus percaya kepada perusahaan sebagai mitra bisnisnya. Karena sedikit saja keraguan akan perusahaannya bisa berdampak ketika melakukan presentasi. Seorang Agen bisa mencari data sendiri, membandingkan perusahaannya dengan kompetitor. Belajar mencari tahu akan lebih bijaksana, ketimbang hanya percaya apa yang dikatakan oleh leadernya. Karena banyak pelaku bisnis yang selalu di kaca mata kuda, sehingga tidak bisa melihat dari sudut pandang netral.

 

Apa saja yang bisa membuat kita percaya diri sebagai penjual terhadap perusahaan?

 

Cobalah mencari tahu, selama berdiri hingga hari ini, dan berkembang di sejumlah negara, apakah pernah meninggalkan negara tersebut dengan berbagai alasan?

Bila sejarah pernah mencatat hal tersebut, cobalah cari tahu apa penyebabnya? Karena jangan sampai terulang kembali di Indonesia. Yang tentu saja akan merugikan pelaku bisnis di perusahaan tersebut.

 

Berapa tahun telah memulai bisnis di Indonesia? Bila sudah lebih dari 10 tahun, coba lihat rekam jejaknya, tentang pertumbuhan premi, pertumbuhan jumlah agen? Dan tahun ke berapa mulai mereguk keuntungan?

Pertumbuhan premi yang naik secara signifikan menunjukkan kepercayaan nasabah pada perusahaan tersebut. Karena kepercayaan dalam bisnis ini sangatlah penting. Kepercayaan bisa menyangkut soal produk yang bagus dan kompetitif, serta layanan klaim.

Pertumbuhan jumlah agen yang tinggi menunjukkan perusahaan mempunyai komitmen dalam pengembangan bisnis. Melihat data ini janganlah hanya mengukur dalam 1 atau 2 tahun pertama. Karena pengukuran dalam waktu singkat belum bisa menampakkan kondisi yang sebenarnya. Karena banyak perusahaan yang mengumbar dana agar banyak pelaku bisnis berbondong bondong masuk, namun ketika pesta sudah usai dengan gampangnya pelaku bisnis meninggalkannya.

 

Dan yang tidak kalah penting, bagaimana komitmen di Indonesia? Yang paling mudah kita nilai soal ini, apakah perusahaan asing ini membeli properti gedung di Indonesia? Karena banyak perusahaan asing masuk di Indonesia, kantor mereka berada di tempat lokasi bisnis dan strategis, namun mereka hanya menyewa. Memperpanjang sewa dari tahun ke tahun, kendatipun mereka sudah lebih dari 10 tahun berada di Indonesia. Sebuah perusahaan yang benar benar punya komitmen selamanya berada di sebuah negara, biasanya mereka membeli properti dan melakukan investasi di negara tersebut. Karena secara jangka panjang, membeli aset akan meningkatkan investasi mereka.

 

Nah, setelah mengerti tentang hal ini, masihkah Anda ragu? Dan Anda juga bisa menimbang, termasuk yang manakah perusahaan Anda? (HC) This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

 

 

 

 

Headquarters Visitors (Sejak 10 April 2013)

1559377