jam

Banyak yang mengatakan bisnis life insurance adalah bisnis yang sulit. Pernyataan itu tidaklah salah. Karena berdasarkan fakta, banyak orang yang sudah terjun dalam bisnis ini menemui banyak hambatan dan akhirnya meninggalkan bisnis ini dengan kegagalan. Di lain sisi, kita juga sering mendengar banyak teman yang sukses dan menghasilkan banyak uang melalui bisnis life insurance.

Saya pernah membaca sebuah riset, yang membahas tentang mengapa orang mau mencoba masuk dalam dalam bisnis life insurance. Dari dasar survey yang ada, banyak alasan yang dikemukakan, dan di urut berdasarkan banyaknya pooling. Banyak orang yang tertarik masuk bisnis ini dengan sejumlah alasan, mulai dari ingin mencari uang tambahan, ingin mewujudkan impiannya, membantu orang tua, ingin ke luar negeri secara gratis, dan lain lain. Sejumlah alasan diranking, mulai yang terbanyak dipilih. Ternyata 2 alasan teratas orang bergabung dengan bisnis asuransi adalah karena 'kebebasan waktu' dan 'bisnis ini milik sendiri, tidak ada Bos yang bisa memerintah'.

Dalam pengertian, dengan kebebasan waktu yang tidak terikat, orang bisa menjalan bisnis ini kapan saja. Dimana ada waktu luang, bisa dikerjakan. Tidak ada jam kerja yang mengikat. Kapan mau dikerjakan bisa dilakukan. Mengerjakan bisnis Life insurance layaknya mempunyai bisnis sendiri, dijaga sendiri, dikembangkan sendiri. Dan semua adalah partner kerja. Tidak ada Bos. Jadi tidak ada yang punya hak untuk memerintah. Hanya aturan perusahaan harus kita ikuti, dan target validasi yang rendah hanya persyaratan agar tidak diterminasi yang mengakibatkan hilangnya komisi lanjutan.

Kembali ke topik awal, karena banyak anggapan bahwa bisnis ini sulit dan menimbulkan kegagalan. Sejumlah konsultan melakukan riset, apa yang membuat orang gagal dalam bisnis life insurance? Dengan harapan bila ditemukan jawaban konkretnya akan dicari jalan keluarnya, dengan mendesain blue print menuju sukses. Maka diadakan riset dari para leader yang telah menjalan bisnis ini lebih dari 10 tahun. Sejumlah dasar dikemukakan diranking dari yang paling atas yang paling utama. Sekalipun alasan gagal dan meninggalkan bisnis ini karena tidak sanggup menghadapi gengsi untuk menawarkan produk life insurance, namun itu bukanlah urutan tertinggi.

Yang sangat mengejutkan ketika diketahui 2 urutan tertinggi penyebab kegagalan dalam bisnis ini, adalah.......KARENA KEBEBASAN WAKTU dan BISNIS INI TIDAK ADA BOS YANG BISA MEMERINTAH.
Menarik sekali hasil riset tersebut. Karena 2 alasan tertinggi itu juga merupakan alasan tertinggi 'alasan orang bergabung dalam bisnis life insurance'.
Dari sana bisa terlihat, bahwa pada dasarnya manusia susah ntuk mendisiplinkan diri. Lawan kita adalah zona nyaman. Ketika tidak ada aturan tentang waktu bekerja, justru kebebasan waktu itu menjadi hambatan kita untuk sukses. Dengan tidak adanya jam kerja yang ditentukan, membuat siapapun mudah meremehkan waktu. Mudah menunda untuk waktu yang akan datang. Yang pada akhirnya tidak sempat untuk dilakukan. Kebebasan waktu ibarat pedang bermata dua. Bisa dipandang sebagai hal yang positif, namun bisa juga menjadi racun yang mematikan. Dengan waktu yang fleksibel ini kadang membuat lingkungan kita menganggap kita tidak mempunyai pekerjaan yang pasti.

Saya pernah merekrut seorang marketing sebuah bank, sebut saja Jen. Dan dia memulai dengan merangkap pekerjaan sebagai seorang FC. Jen lakukan di luar jam kerjanya. Kadang pulang kantor. Atau di hari Sabtu. Tidak butuh waktu lama, Jen memperoleh penghasilan dari komisi dan bonus yang lebih besar bila dibandingkan dengan gaji dia selama 1 tahun di bank. Setelah menimbang nimbang, akhirnya Jen memutuskan untuk mengundurkan diri dari bank. Dan berniat fokus di bisnis life insurance. Dia berpikir, kalau selama ini dia menghabiskan waktunya selama sehari, setidaknya 8 - 10 jam sehari bekerja di bank, penghasilannya jauh di bawah pekerjaan sambilannya sebagai agen asuransi. Tentunya dia berpikir, bila dia mengerjakan bisnis life insurance sebagai agen, dan mengerjakan dengan waktu seperti di bank, maka akan diperoleh berlipat lipat ganda penghasilannya. Secara matematika tidak salah !!

Tahukah Anda apa yang terjadi? Pada bulan yang ke 9, Jen memutuskan kembali bekerja di bank !!
Mengapa ??.......

Pada saat memutuskan full time sebagai agen, yang menarik adalah Jen tidak pernah lagi punya kebiasaan seperti bekerja di bank. Dulu sewaktu bekerja di bank, setiap hari pukul 8 dia masuk kerja , dan baru pulang menjelang pukul 17 atau 18. Namun ketika dia bekerja sebagai agen, Jen baru masuk menjelang pukul 10, dan sering justru tidak masuk kantor. Sering ketika saya hubungi dia lagi bersama mamanya di salah satu pertokoan. Dia melakukan prospek tidak jauh berbeda dengan saat dia bekerja di bank. Kalau dulu selama melakukan pekerjaan paruh waktu bisa bertemu prospek seminggu 4 orang, sekarang dengan kondisi seperti pekerja full timer, tidak jauh berbeda. Dalam satu minggu hanya berkisar 4 - 5 orang. Sehingga income yang di dapat tidaklah berbeda jauh. Namun kebiasaan hidupnya yang berbeda total. Kalau dulu Jen bangun tidur di kisaran pukul 6. Sekarang paling pagi baru pukul 9 dia bangun tidur. Ditunjang lingkungan keluarganya tidak mendukung dengan gaya kerja tanpa aturan waktu. Sehingga mereka dengan mudah mengajak Jen berbelanja atau jalan jalan di mall pada jam kerja. Mereka beranggapan pekerjaan di dunia life insurance bukan termasuk sebuah pekerjaan yang serius. Hanya dianggap sebagai pekerjaan sambilan. Yang mana saat dia kerja di bank, tidak ada yang meminta menemani jalan jalan pada jam kerja. Karena bekerja di bank, bila terlambat akan kena peringatan atau marah dari Pimpinan. Bekerja di Bank bila tidak memenuhi target akan berdampak pada kelangsungan karier dan otomatis berpengaruh pada kenaikan gaji.

Bagaimana dengan target di bisnis asuransi ?
Di bisnis life insurance memang ada target dari perusahaan. Target ini sangat kecil. Target ini dibuat agar seorang agen tidak hanya menunggu menerima komisi lanjutan tapi tidak produktif. Dan target yang diberikan tidak berkala secara bulanan. Tiap perusahaan bisa berbeda aturannya. Ada yang evaluasi secara tiga bulanan, bahkan ada yang secara tahunan.

Bekerja di bank dengan target, karena bank memberi gaji bulanan. Tentunya mereka tidak mau memberi gaji tanpa hasil yang produktif seiring dengan laba yang didapat bank dari pencapaian kerja karyawan. Dan Pemimpin bank atau atasan karyawan mempunyai hak untuk memarahi atau menegur karyawan bila tidak memenuhi targetnya. Pemimpin di bank berhak memonitor aktivitas karyawannya hari demi hari, atau bahkan jam demi jam. Karyawan ada perasaan takut terhadap atasannya. Situasi ini berbeda dengan bekerja di bisnis life insurance. Leader Anda bukanlah Bos Anda. Semua adalah bisnis partner. Dengan tidak ada status Bos, maka tidak ada yang berhak untuk meminta hasil. Leader tidak berhak marah atas pencapaian Agen. Leader sifatnya sebagai pembimbing Agen. Sebagai pelatih sukses, istilah kerennya. Namun dengan situasi yang seperti ini, justru menjadi bumerang bagi seorang Agen. Dengan tidak adanya Bos yang bisa menegur mereka, membuat kinerja mereka tidak terkontrol. Seorang Agen bisa melakukan apa saja dalam pengaturan waktu. Dan inilah awal dari banyak alasan kegagalan bisnis. Kedewasaan mental merupakan bagian yang terpisahkan dari pola sukses seorang Agen pemula. Perpindahan kuadran dari seorang karyawan ke kuadran transisi sebagai pemilik bisnis, membutuhkan kesiapan mental. Mental seorang pengusaha, tanpa ada Bos yang memerintah mereka akan melakukan tindakan sendiri seiring dengan target pribadi akan penghasilan yang ingin dicapai. Kedisiplin sebagai karyawan selama ini adalah kedisiplinan semu. Artinya selama ini mereka bisa masuk kerja pukul 8 tepat, bukanlah kedisiplinan yang sesungguhnya. Mereka disiplin karena aturan yang siap menghukum mereka bila melanggar. Kedisiplinan seorang pengusaha berbeda. Mereka disiplin karena mereka tahu kunci kesuksesan mereka salah satunya harus disiplin. Jadi tanpa aturanpun mereka harus disiplin.

Dengan berubahnya gaya hidup menjadi tidak disiplin, bahkan cenderung tidak menghargai waktu, membuat keluarga Jen menyarankan untuk kembali bekerja di bank. Lagi lagi keluarganya menyalahkan Jen ketika memutuskan untuk resign dari bank. Keluarganya menilai bahwa kerja di bisnis asuransi tidak memberi penghasilan yang tetap. Karena tiap hari mendengar komentar negatif dari sekelilingnya, akhirnya Jen memutuskan kembali bekerja di bank. Dan menariknya, Jen bisa kembali bangun pagi. Dan bisa masuk kantor dan pulang kantor sesuai jam kerjanya. Keluarganya tidak lagi meminta Jen menemani belanja dan jalan jalan di jam kerja. Teman teman Jen menganggap dia telah gagal di bisnis life insurance. Mereka menganggap lebih baik kerja yang memberi penghasilan tetap, dan bekerja paruh waktu sebagai agen asuransi.

Apa yang salah dalam situasi seperti ini. Bagaimana menurut Anda ?? (HC)

hq animasi11

Ruko HR. Muhammad Square Blok C-27
Jl. Raya Darmo Permai II Surabaya
Jawa Timur - Indonesia